Artikel Terbaru

Yayasan Kesehatan untuk Semua: Ojek Juru Selamat

Yayasan Kesehatan untuk Semua: Ojek Juru Selamat
1 (20%) 1 vote

Program ini memberikan kemudahan dalam hal layanan cepat. Misalnya, pelayanan imunisasi, posyandu, rujukan untuk pasien gawat darurat, dan beragam kegiatan lainnya. “Sepeda motor menjadi pilihan. Pertimbangan kami, jenis kendaraan ini lebih mungkin menjangkau pedesaan. Dengan akses jalan yang sulit sekalipun, sepeda motor jadi juruselamat pasien,” katanya. Ojek sepeda motor bisa berfungsi sebagai “ambulans” yang mengangkut pasien ke pusat pelayanan kesehatan di kota, atau menjadi kendaraan petugas kesehatan untuk datang ke desa-desa terpencil.

Dihargai
Aktivitas yayasan rupanya mendapat perhatian dari Migran Care, sebuah Yayasan yang bergerak dalam bidang advokasi buruh migran. Karena perhatian mereka mengurus orang-orang kecil di pedesaan tahun 2013, Migran Care melibatkan YKUS ikut menangani isu buruh migran. Melalui Program Maju Perempuan untuk Penanggulangan Kemiskinan, YKUS membantu di tiga desa yakni Dulitukan, Tagawiti, dan Beutaran, di Kecamatan Ileape, Lembata.Migran Care ingin memastikan upaya perlindungan buruh migran dimulai dari desa sebagai basis buruh migran.

Atas kiprah ini Mans pernah diundang sebagai salah satu panelis pada Konferensi Nasional “Hukum dan Penghukuman” yang diselenggarakan Pusat Studi Kajian Wanita Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia bekerjasama dengan Komnas Perempuan di Pusat Studi Gender UI De pok, tahun 2010.

Tahun 2009, YKUS diganjar penghargaan Best Practices dari Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BPKTI). Tak berhenti sampai disitu, beragam penghargaan silih berganti diraih Yayasan ini. Pada tahun 2010, YKUS meraih Satu Indonesia Award dari PT Astra International Tbk dan 2012 memperoleh MDG Award dari Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Pencapaian Millennium Development Goals dan The USAID Indonesian Social Innovator Awardkategori Serving the Last Mile.

Beragam prestasi tidak membuat mereka sekadar bertepuk dada. Dari waktu ke waktu mereka berusaha untuk semakin meningkatkan pelayanan. “Doa dan kerja menjadi taruhan dalam pelayanan kami. Tak pernah terpikir mendapat penghargaan. Kalaupun ada sebagai orang Katolik, saya pikir itulah cara Tuhan memandang karya kami,” kata Mans.

Ansel Deri

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 4 Tanggal 24 Januari 2016

 

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*