Artikel Terbaru

Maria Renata Andajani: Bekal Iman Anak-Anak

Maria Renata Andajani: Bekal Iman Anak-Anak
3 (60%) 2 votes

Renata mengakui, tak hanya anak-anak yang mendapat bekal soal iman, ia dan kawan-kawannya juga banyak belajar dari anak-anak. Bekal yang mereka dapat adalah soal pola pendampingan anak serta metode pengajaran iman untuk “malaikat kecil”. Ini tantangan yang tak mudah untuk Renata, tim, dan para pelayan pastoral untuk anak. Mereka dituntut memiliki banyak analogi, perumpamaan, dan hal-hal konkret soal ungkapan dan perwujudan iman. Hal ini agar mudah diindrai atau dipahami anak-anak. Ini agar anak-anak bisa menangkap dengan mudah tentang pengajaran kekatolikan.

Renata yakin, jika di setiap Lingkungan punya kelompok bina iman anak (BIA) dan komunitas itu terawat dengan baik, maka tak sulit mengajak anak-anak terlibat dalam kegiatan Lingkungan, Wilayah, atau Paroki. Mereka akan sadar, itu adalah satu-satunya kesempatan di mana mereka bisa bertemu dan berkumpul bersama rekan-rekan sebayanya.

Kelompok BIA Lingkungan, terang Renata, bisa menjadi ruang dan kesempatan bagi orangtua belajar soal pendampingan iman untuk buah hati mereka. Selama ini ada anggapan keliru, orangtua merasa, semua urusan soal iman beres dengan menyerahkan putra-putri mereka ke dalam kelompok BIA. Padahal dalam janji pernikahan, orangtua juga mengemban tugas sebagai pendidik iman anak. Lagi pula keluarga merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anak.

Waktu Longgar
Renata bersyukur sebagai guru, ia punya waktu lebih longgar dibandingkan umat lain. Kesempatan luang itu ia gunakan untuk merawat keluarganya serta menjadi pendamping iman bagi anak-anak di Lingkungannya. “Kalau tak dimulai dari diri sendiri, lantas siapa yang akan memulai,” ungkap istri Yohanes Agus Sunaryanto ini.

Ia mengakui, pendampingan iman anak di kota besar saat ini kurang mendapat perhatian serius dari para orangtua. Boro-boro bicara soal iman, waktu bersama mereka dengan sang buah hati pun amat minim. Mereka bekerja dari pagi hingga malam. Jika masih sempat bertemu anak, pertanyaan yang mereka tanyakan seputar sekolah.

Pada akhir pekan atau libur mereka gunakan sebagai waktu bersama. Sayangnya kesempatan itu hanya diisi dengan pergi, nonton, makan, atau rekreasi bersama. Sementara pembinaan iman untuk anak kemungkinan besar tak ada dalam daftar waktu bersama keluarga. “Lalu bagaimana dengan perkembangan iman anak?” tanya Renata.

Keluarga imbuhnya, seharusnya sadar bahwa pertumbuhan iman dan pergaulan anak juga sangat penting. Oleh karena itu, ia menyarankan agar para orangtua pun mengalokasikan waktu, misal satu atau dua kali dalam sebulan, anak ikut BIA.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*