Artikel Terbaru

Beato Marie-Eugène Grialou dari Kanak-kanak Yesus (1894-1967): Pelindung Institut Sekulir

Beato Marie-Eugène Grialou dari Kanak-kanak Yesus (1894-1967): Pelindung Institut Sekulir
1 (20%) 1 vote

Atas usaha dan kerja kerasnya, empat adiknya sangat kagum pada sang kakak. “Kulitnya mulai hitam karena tersengat sinar matahari dan kedua tangannya kasar,” ujar Alex, adik keduanya. Mereka menilai, selain pekerja keras, Hendri juga keras kepala dalam berpendirian. Ia tak segan menegur siapa saja yang berbuat salah.

Di tengah perjuangan ini, Hendri tak pernah lupa akan imannya. Sebuah pesan dari ibunya, “Bekerjalah bila kamu masih mampu, tapi berdoalah sampai akhir hayatmu.” Pesan itu menyuntikkan semangat bila duka menyelimuti hati. Ternyata, hidup rohani yang ia rawat sekuat tenaga menuntun ke jalan lain. Terbersit keinginan untuk menjadi imam.

Tahun 1905, Hendri berangkat ke Susa, Piedmont, Turin, Italia, untuk belajar teologi dasar. Di Susa, panggilan menjadi imam kian kuat. Ia lalu kembali ke Perancis dan memutuskan masuk seminari di Graves, Bourdeaux. Untuk meringankan biaya sekolahnya, pihak seminari mengizinkannya bekerja di tukang logam dekat seminari.

Tentara Kristus
Dari Graves, Hendri pindah ke Seminari Rodez, Toulouse. Di seminari ini, ia melewati berbagai tantangan. Tantangan terbesar datang dari komunitasnya sendiri. Banyak rekan seperjalanan yang selalu iri karena kemampuan akademiknya di atas rata-rata. Rektor seminari juga ikut termakan hasutan seminaris lain. Ketika berbuat sesuatu yang baik, rektor selalu menilainya buruk. Situasi ini membuatnya memutuskan mengundurkan diri pada 2 Oktober 1911.

Setelah keluar dari seminari, Hendri tetap merawat hidup rohaninya dengan baik. Ia sangat menggemari tulisan-tulisan tentang St Theresia Lisieux. Tahun 1913, ia menulis surat kepada seorang teman di seminari, “Berdoalah bagiku agar aku bisa seperti Sr Theresia.”

Ketika pecah Perang Dunia I (1914-1918), banyak anak muda diwajibkan ikut wajib militer, tak terkecuali Hendri. Selama enam tahun, ia menjalani wajib militer dan mendapat tugas ke Italia. Usai perang, ia sudah berpangkat Letnan dan menerima penghargaan “Legion of Honor”.

Setelah itu, Hendri pulang ke kampung halaman. Ia menjalani masa-masa “pensiun” dari medan perang dengan terus memupuk kehidupan doa. Kenangan-kenangan indah waktu di seminari membuatnya seakan ingin meneruskan panggilannya yang tertunda. Keinginan ini memuncak pada Agustus 1919. Ia kembali ke seminari.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*