Artikel Terbaru

Bukalah “Pintu” bagi Difabel

Bukalah “Pintu” bagi Difabel
Mohon Beri Bintang

Uang itu untuk membiayai karya pelayanan, gaji karyawan, perawatan bangunan, dan kebutuhan penghuni. Kami punya 53 karyawan, 45 anak yatim piatu, lima suster, dan tiga orang sakit saat ini. Jadi, berkat bantuan para donatur dan Gereja kami bisa hidup. Kami juga menjual hasil kebun dan karya karyawan.

Apakah tak ada kendala mencari sumbangan?

Ada juga Gereja yang menutup “pintu”. Saya pernah mengirim proposal pencarian sumbangan ke salah satu paroki di Keuskupan Agung Jakarta. Saya datangi gereja itu dan bertemu dengan pastor parokinya. Dia bilang, tidak bisa sekarang karena paroki sedang butuh uang.

Saya tunggu tiga bulan; tak ada jawaban. Saya datang ke gereja dan bertemu dengan Romo itu lagi. Romo bilang, itu (izin mencari sumbangan –Red) urusan Dewan Paroki. Saya temui wakil Pengurus Dewan Paroki. Dia ma lah bilang, itu urusan Pastor Paroki. Saya tidak putus asa. Saya tulis surat ke Romo mohon “pintu” bisa dibuka untuk ka mi. Syukur, kami bisa mencari sumbangan di paroki itu.

Jadi seperti diping-pong, apa reaksi Suster?

Paroki banyak menerima permohonan sumbangan membangun gereja dari mana-mana. Tapi saya ingat, Paus Fransiskus mengatakan, Gereja itu bukan gedung. Uskup Agung Jakarta juga pernah mengatakan, Gereja harus bergerak membantu sesama. Mereka ini (sam bil menunjuk foto para difabel –Red) adalah Gereja.

Adakah yang menggantikan peran Suster kelak?

Sudah ada, saya tidak khawatir jika suatu saat nanti tak ada lagi. Jika meninggal, saya ingin tetap berada di Indonesia. Saya masih ada satu impian, mendirikan panti jompo. Para lanjut usia cocok berada di tengah orang muda. Lingkungan di sini sangat cocok untuk itu. Semoga tahun ini bisa terwujud.

Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 17 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*