Artikel Terbaru

KPK St Lukas: Merasul Lewat Pelayanan Kesehatan

KPK St Lukas: Merasul Lewat Pelayanan Kesehatan
1 (20%) 1 vote

Penuh Semangat
Dokter Tjandra dan tenaga medis lain di KPK St Lukas berupaya untuk terus menjaga pijar semangat pelayanan mereka. “Saya bahagia bisa ambil bagian dalam pelayanan ini, senang bisa melayani orang lain meski tanpa bayaran. Biar Tuhan yang menghitung. Kata ayah saya, ini seperti mengumpulkan tiket ke surga. Saya percaya kalau Tuhan punya mau, semua bisa terjadi,” kata dokter kelahiran Jakarta, 15 April 1968 ini.

Sementara itu, drg Margaretha Elon Massang Sura bersyukur bisa ikut terlibat dalam pelayanan di KPK St Lukas. Bagi dokter Etha, sapaannya, ini menjadi wujud pemberian dirinya bagi sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Ketika ia pergi ke paroki-paroki, ia melihat banyak masyarakat yang belum mendapat pelayanan kesehatan. “Ada juga pengalaman ketika saya menjadi pendamping pendalaman iman di stasi. Waktu itu, usai mendampingi pendalaman iman, umat berkonsultasi mengenai kesehatan karena umat tahu saya dokter, ya saya layani mereka,” kisah dokter kelahiran Makassar, 12 Desember 1971 ini.

Melalui KPK St Lukas, dokter Etha berharap semakin banyak umat dan masyarakat bisa dilayani. “Semoga Gereja tidak hanya bicara soal iman, lewat pelayanan ini, kita bisa merasul juga di tengah masyarakat,” ujar Kepala Puskesmas Tondon, Toraja Utara ini.

KPK St Lukas menjalin kemitraan dengan kelompok St Lukas di Makassar. Mereka juga bekerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda). Misalnya baksos di Gereja Mestawa Mamasa, di perbatasan Sulawesi Barat pada 29/11-1/12. KPK St Lukas menggandeng Pemda Toraja Utara. Dukungan Pemda dan berbagai pihak ini mengobarkan semangat pelayanan para anggota KPK St Lukas dan mereka yang terlibat dalam pelayanan ini.

Darmitha Noria Tandi, seorang perawat yang pernah bertugas di Puskesmas Tanglala, Toraja (2013-2015) ini juga merasa bersyukur bisa terlihat di KPK St Lukas. Sekretaris KPK St Lukas sejak 2013 ini mengungkapkan, ada kepuasan tersendiri kala bisa melayani orang lain. “Pelayanan saya di kuatkan dengan ungkapan seorang romo dalam rekoleksi yang kami lakukan: ‘Ketika kita banyak memberi, kita juga akan banyak menerima’. Prinsip melayani tanpa imbalan, itu yang kita pegang,” tandas kelahiran Tanglala, Toraja, 4 Mei 1988 ini.

Maria Pertiwi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 2 Tanggal 10 Januari 2016

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*