Artikel Terbaru

Jamuan Natal bagi Kaum Papa

Jamuan Natal bagi Kaum Papa
1 (20%) 1 vote

Cisca dan suaminya bersama komunitas Choice pun mengantar peserta menuju bus. Ia berjalan beriringan mendampingi ibu yang curhat dengannya saat makan. Entah mengapa, ibu itu mengajukan sebuah permintaan kepadanya. “Apakah saya boleh me meluk kamu, Non?” Cisca menghampiri ibu tersebut dan memeluknya sambil memejamkan mata. Air mata mengalir dari ke lopak matanya. “Kalau kami nanti buka Puasa, Nona datang ya,” ibu itu berbisik kepada Cisca.

Cisca hanya mengangguk. Rasa haru telah menyekat tenggorokannya. “Momen itu, selalu kami ingat. Ini pertama kalinya ia (Cisca-Red) duduk makan satu meja dengan kaum papa,” jelas Vergo.

“Makan Siang Natal” memang diperuntukkan bagi orang tak mampu, keluarga buruh, petugas parkir Gereja, petugas keamanan, pemulung, anak-anak yatim, janda, hingga kaum disabilitas. “Makan Siang Natal”, kata Andi, memang bukan sekadar acara makan-makan atau seremonial Natal. Mengutip semangat Komunitas Saint’Egidio, Andi menjelaskan, ini adalah bentuk perhatian bagi kaum kecil, miskin, dan papa. Maka saat makan, peserta duduk satu meja dengan panitia dan bercakap layaknya sebuah keluarga.

Usai makan, para peserta menerima kado yang sesuai dengan keinginan mereka. Sebelum acara “Makan Siang Natal”, Andi dan timnya menghubungi para peserta dan menanyakan kado apa yang mereka inginkan. “Kami mengajukan pilihan kepada mereka, mau dibelikan apa, namun dengan batasan 150 ribu rupiah.”

Natal 2016 ini, KPK, Choice bersama beberapa komunitas kategorial lainnya mengadakan “Makan Siang Natal” di beberapa titik. Keterlibatan KPK bermula dari ajakan Romo Al. Andang L. Binawan SJ. Andi yang juga menjabat sebagai Ketua Lingkungan Vincentius Lippo, Paroki St Helena Curug, Tangerang, mengajak dua lingkungan lain menggelar “Makan Siang Natal” 2015. Gayung bersambut, acara digelar di Sekolah Kiara Karitas Lippo. Meski namanya makan siang, mereka mengadakannya sore hari sekitar pukul 15.00. Tercatat ada 150 peserta dan 100 relawan mengikuti acara ini. “Tahun ini ada 300 peserta dan 200 relawan yang siap melayani,” ujarnya.

Beta Sapa
“Makan Siang Natal” bagi Andi adalah sebuah “Beta-Sapa” atau bergandengan tangan, sayangi papa. Kegiatan ini merupakan gerakan bersama semua umat. Melalui sapaan dalam jamuan makan ini, ada banyak buah yang bisa dihasilkan. Peserta maupun panitia memiliki corak latar belakang kehidupan berbeda dari segi etnis, budaya, agama, dan status sosial. “Maka ini adalah momen cinta untuk merawat dan menjaga kebhinnekaan. Tentu saja ujungnya adalah merayakan kasih Allah secara bersama,” ungkap ayah dua anak ini.

Selama “Makan Siang Natal” berlangsung, panitia dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama, Sahabat Meja, yang bertugas melayani dan menemani para undangan untuk makan bersama. Sahabat Meja mengajak ngobrol para undangan. Kelompok kedua disebut Pelayan Meja yang bertugas mengantar dan menaruh makanan yang sudah disiapkan dari dapur menuju meja makan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*