Artikel Terbaru

Irene Aprilina Sugiarti: Demi Ibu dan Si Buah Hati

Irene Aprilina Sugiarti: Demi Ibu dan Si Buah Hati
1 (20%) 1 vote

Tak semua motivasi awal Iren menjadi bidan sesuai kehendaknya. Ada kalanya, harapan berbanding terbalik dengan kenyataan. Iren sempat mengalami situasi pelik ketika harus menangani persalinan kedua dari pasien yang sama. Anak pertama ibu itu meninggal setelah beberapa hari dilahirkan. Bobot bayi hanya 900 gram. Sedangkan bayi kedua tak menangis begitu keluar dari rahim. Tubuhnya membiru. Suami ibu itu meraung, melihat kondisi anaknya. Ia tak rela harus kehilangan anak untuk kedua kalinya. Harapan yang sama pun bergelayut di batin Iren. Ia stres berhadapan dengan situasi itu. Bayangan anak pertama ibu itu hinggap dibenaknya.

Beban psikis Iren kian bertambah karena pasien yang ia tangani adalah rekan seruang kerjanya sendiri. Beruntung, hal buruk tak terjadi. Iren lega. Bayi itu lahir selamat. “Ia kelas satu SD sekarang,” ujar alumna Akademi Kebidanan Dr Cipto Mangunkusumo itu.

Tak Bernyawa
Sebagai bidan, kegembiraan Iren dan juga sekitar 50 koleganya di RS Sint Carolus adalah ketika ibu dan bayi yang mereka tangani lahir dengan selamat dan sehat. Meski demikian, ada kalanya tak semua ibu yang mengandung, kembali ke rumah dengan membawa buah hati mereka yang bernyawa. Duka mereka menjadi lara untuk Iren dan rekan seprofesinya.

Bayangkan, katanya, mereka datang ke rumah sakit dengan usia kehamilan yang besar. Mereka ingin melahirkan di rumah sakit. Mereka semua pasti berharap, gering yang mereka rasakan bakal terbayar lunas dengan kehadiran malaikat kecil. Lantas, impian itu sirna sebab si kecil menutup mata untuk selamanya.

Tak mudah memberitahu kabar duka kepada pasien dan keluarganya. Namun tugas itu merupakan bagian dari tanggung jawab profesi Iren. Ia mengakui, hampir selalu ada penolakan pada mulanya. Namun setelah mendapat informasi secara komprehensif, mereka menerima kenyataan itu.

Iren bersama sejumlah bidan di sebuah ruang perawatan nifas. [HIDUP/Yanuari Marwanto]
Iren bersama sejumlah bidan di sebuah ruang perawatan nifas.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*