Artikel Terbaru

Irene Aprilina Sugiarti: Demi Ibu dan Si Buah Hati

Irene Aprilina Sugiarti: Demi Ibu dan Si Buah Hati
1 (20%) 1 vote

Persalinan menurut anggapan banyak orang adalah pertaruhan hidup dan mati. Atau kata Iren, toh nyawa, taruhannya nyawa. Tak ayal persepsi itu membuat banyak orang takut untuk melahirkan. Padahal persalinan, menurut Iren, akan berjalan dengan baik asal dipersiapkan dan ditangani dengan baik. “Jangan takut. Melahirkan adalah proses fisiologis atau natural. Semua perempuan ditakdirkan untuk melahirkan,” cetusnya.

Kata Iren, empati kepada para pasien merupakan hal mutlak bagi para bidan. Pasien ingin diterima dan dilayani dengan optimal. Jika mereka merasa nyaman dan tenang, bakal membuat persalinan berjalan dengan lancar. Pun sebaliknya.

Ada kala pasien merasa in dengan pelayanan yang diterima, tapi justru keluarganya gusar. Penyebabnya bisa beraneka rupa. Kejadian ini akan membawa dampak bagi pasien dan proses persalinannya. “Tiap orang punya karakter yang berbeda-beda,” tutur Kepala Unit Kamar Bersalin dan Ruang Perawatan Nifas itu.

Panggilan Jiwa
Seiring waktu, menjadi bidan bagi istri F. X. Hutagalung ini tak lagi sekadar cita-cita. Profesi ini sudah menjelma menjadi panggilan hidup. Jika bukan panggilan dari-Nya, aku Iren, ia sudah tergiur dengan beasiswa sejak awal. Panggilan Tuhan kian menguat saat Dia mengutusnya kembali ke RS Sint Carolus sebagai bidan.

Jika bukan karena panggilan, Iren sudah lama meninggalkan profesinya. Sebab, ketika anak-anaknya masih kecil, mereka selalu was-was seandainya Iren di rumah dan telepon berdering. Iren kerap diminta oleh pimpinan untuk menggantikan rekannya yang absen karena letak rumah yang tak jauh dari tempat kerja. Andai bukan karena panggilan jiwa, tak mungkin ia meninggalkan anak-anaknya meski sementara. Ia sadar, di ujung sana ada pasien yang membutuhkan kehadiran dan bantuannya.

Meski waktu terus berputar, motivasi awal Iren menjadi bidan tak pernah pupus. Ia sadar Tuhan mengutusnya ke RS Sint Carolus untuk setia kepada panggilan-Nya. Pun hingga kini dengan segudang pengalaman dan keterampilan, Bendahara Ikatan Bidan Indonesia Cabang Jakarta Pusat ini tak membuka praktek di luar. “Saya ingin fokus melayani di sini (RS Sint Carolus–Red),” demikian Iren.

Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 52 Tanggal 25 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*