Artikel Terbaru

St Marie Hermina Grivot FMM (1866-1900): Miskin Materi, Kaya Spirit Pelayanan

St Marie Hermina Grivot FMM (1866-1900): Miskin Materi, Kaya Spirit Pelayanan
1 (20%) 1 vote

Diam-diam sang ibu menyiapkan sebuah hadiah kecil buat Irma. Suatu ketika, ibunya memberi kejutan dengan memberikan kepadanya sebuah Kitab Suci. Irma senang bukan kepalang, ketika tahu bahwa hadiah itu adalah Kitab Suci. Jadilah hari-harinya diisi dengan membaca Kitab Suci. Pelan-pelan bacaan-bacaan saleh itu menumbuhkan cita-cita baru dalam lubuk hatinya. “Kelak bila aku dewasa, aku akan menjadi biarawati,” tulis Irma dalam catatan hariannya.

Irma sadar untuk menggapai cita-cita itu ia harus keluar dari dunianya. Karena itu, ia mulai mencari teman sebanyak mungkin. Syukur gayanya yang humoris dan sederhana, banyak disukai orang. Kalau sedang merasa lapar, Irma punya satu trik untuk melupakan rasa laparnya. Trik itu adalah terus bermain bersama teman-temannya sehingga rasa lapar itu bisa terlupakan.

Guru Setia
Lewat berbagai cara, Irma kemudian bisa diterima di Sekolah Dasar di Beaune. Sayang, ia tidak dapat menyelesaikan sekolahnya karena tidak mampu membayar uang sekolah. Ia menuliskan, “Aku tidak ingin melepaskan cita-cita karena miskin. Aku harus berbuat sesuatu agar bisa melayani Tuhan.” Irma lalu terlibat di berbagai kegiatan Gereja. Lewat pastor parokinya, Irma menemukan peluang untuk bisa meraih cita-citanya.

Sementara itu, sang ayah, ketika mendengar Irma akan menjadi biarawati, sontak menjadi sangat marah. Ayahnya berdalil, apa untungnya menjadi biarawati? Cita-cita tidak membuat kenyang. Sikap protes sang ayah jauh berbeda dengan tanggapan ibunya. Sang ibu justru sangat senang dengan pilihan Irma. Dukungan lain juga datang dari pastor paroki. Malah sang pastor menawarkan alternatif agar sebelum menjadi biarawati, Irma bisa mulai dengan menjadi guru terlebih dulu. Tujuannya adalah agar Irma punya pengetahuan cukup tentang iman Katolik. Irma menerima tawaran itu. Ia menjadi guru bagi anak-anak di parokinya selama 10 tahun. Sebagai guru, Irma tidak hanya mengajarkan aspek akademik, tetapi juga budi pekerti. Ia mengajarkan mereka cara berdoa dan membaca Kitab Suci.

Setelah 10 tahun, tepatnya 1894, Irma mendapat rekomendasi dari pastor parokinya untuk masuk menjadi pranovis di Biara Franciscan Missionaries of Mary (FMM) di Vanves, dekat Paris, Perancis. Dua tahun kemudian, Irma mulai menjalani masa novisiat di Les Châteletsm, dan mengambil nama biara Marie Hermine de Jésus. Kemudian ia dikenal dengan nama Sr Marie Hermine Grivot FMM.

Sebagai seorang biarawati FMM, Sr Marie menjalani kehidupan asramanya dengan penderitaan yang luar biasa. Pada saat itu, penyakit masa kecilnya kambuh. Akan tetapi ia tidak merasa dirinya lemah. Ia selalu setia pada tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya. “Aku mau menderita seperti Kristus sampai akhir hidupku,” tulisnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*