Artikel Terbaru

Menantuku Sering Selingkuh

Menantuku Sering Selingkuh
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comRomo Erwin, saya seorang ayah dari pasutri yang baru enam tahun menikah. Anak saya adalah pihak suami. Istrinya mengaku telah selingkuh sekitar empat tahun. Saya heran, istrinya mengakui perbuatan dengan gamblang kepada suaminya dan berulang kali meminta maaf. Saya tak habis pikir, anak kami (sang suami) dapat menerima kesalahan istrinya berulang kali. Apakah perselingkuhan boleh mudah dilakukan dan dimaafkan? Apakah memang iman anak kami kuat sehingga ia tabah menghadapi masalah ini ataukah ia termasuk suami yang takut kepada istri? Saya melihat ini sangat keterlaluan, karena menantu saya tak bertobat dan masih terus melakukan perselingkuhan (dan bahkan perzinahan) dengan pacar barunya. Mohon pencerahan Romo. Terima kasih.

Sudarminto, Bekasi.

Bapak Sudarminto yang baik, saya bangga dengan orangtua seperti Anda, yang memperhatikan hidup anak-anak. Anda memberi perhatian luar biasa, khususnya perselingkuhan di dalam rumah tangga anak Anda. Perbuatan istrinya adalah dosa dan tak boleh diteruskan. Di lain pihak, ia mempertahankan hidup perkawinannya yang adalah sakramen dengan sekuat tenaga. Barangkali ia bingung, mana yang harus dipegang.

Prinsip utama adalah perzinahan tak boleh dilanjutkan apalagi ditoleransi tanpa usaha pertobatan. Pertobatan bisa dilakukan jika ada masukan atau sanksi atas perbuatannya. Sanksi bisa berupa teguran atau inspirasi yang jelas, tegas, dan mantap tentang sikap Anda yang menolak tegas perselingkuhan itu.

Ingatlah, sanksi bukan berarti membenci atau menceraikannya, melainkan menyampaikan edukasi, meskipun barangkali emosi akan mempengaruhi relasi Bapak dengan menantu. Anda harus menyampaikan hal yang sebenarnya, seperti pentingnya kesetiaan, kesucian, penyakit kelamin, maupun gangguan psikologis karena perselingkuhan itu.

Betapapun penting, peran Anda tetap terbatas sebagai mertua. Anda harus menginspirasi anak Anda untuk bersikap wajar dan proporsional. Wajar artinya memberi sanksi atas tindakan itu dan mereaksi secara benar menurut adat dan budaya yang diyakini. Jika kita menganggap perselingkuhan itu buruk dan berdosa, maka harus membela tradisi itu. Tak boleh istri berselingkuh dan berpacaran dengan laki-laki lain karena ia milik eksklusif, sepenuhnya, dari suaminya.

Menurut saya, anak Bapak, sebagai suami, kurang proporsional dan kurang “pas” menanggapi perilaku dan tindakan istrinya. Ia adalah orang yang paling berhak untuk memberi tanggapan dan bahkan meminta pertanggungjawaban istrinya. Gereja tentu sangat mendukung pengampunan satu sama lain, tetapi ini tidak boleh melestarikan dosa yang bisa diperbaiki. Mendiamkan perbuatan dosa istri menunjukkan kurangnya perhatian dan bahkan kurangnya relasi pasutri yang sehat.

Silakan memberi inspirasi kepada sang suami. Jangan mengarahkannya untuk hanya bersikap lembut, melainkan juga bersikap tegas dan jelas mentalnya. Jika sang suami mencintai istrinya, ia tentu akan membela istrinya, bahkan kecewa dan marah karena peristiwa ini. Kemarahan itu bukan dosa, asal pada tempatnya. Barangkali dengan emosi yang wajar dan proporsional, kekeliruan dapat dicegah dan dihentikan.

Jika ternyata menantu Anda tidak mau segera berubah, toleransi tidak boleh diteruskan. Suami harus mengambil langkah pasti untuk mengajak istri berkonsultasi. Berdiskusilah dengan Romo Paroki setempat, agar ditemukan sikap yang tepat untuk menghentikan peristiwa yang memalukan ini. Ingatlah bahwa bukan hanya suami yang harus menanggung akibatnya, melainkan seluruh keluarga, terutama anak yang akan menanggung akibat dari perbuatan tercela ini.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 1 Tanggal 1 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*