Artikel Terbaru

Keluarga Mendampingi Pemakai Narkoba

Keluarga Mendampingi Pemakai Narkoba
1.5 (30%) 2 votes

Ignasius senang ketika ia melihat perkembangan anaknya di Kedhaton Parahita. Namun ia mendadak murka ketika Ricky justru ingin menjadi konselor. Ignasius bilang, konselor itu tidak ada masa depannya. Namun Ricky mantap menjawab, “Saya ingin membaktikan diri kepada orang-orang yang terkena narkoba.”

Setelah mengadakan doa novena, Ignasius merestui keinginan putranya. Ia bahkan menjadi relawan di Jembatan Parahita yang menghubungkan antara keluarga dan residen. Meski untuk masuk Kedhaton Parahita itu ada biaya yang harus dibayar, Ignasius menilai itu tidak pernah mencukupi kebutuhan Kedhaton. Umat Paroki St Bonaventura Pulomas, Jakarta ini berpesan kepada keluarga Katolik untuk mencegah masuknya narkoba dan alkohol ke dalam kehidupan keluarga.

Sehidup Semati
Senada dengan itu, Maria Goreti Maryani juga mengajak keluarga-keluarga Katolik menjadi zona pencegah narkoba. Yani berkutat dengan urusan narkoba karena Daniel, suaminya tenggelam dalam dunia kelam itu. Mereka menikah pada 2006. Meski tak segera mendapat momongan, biduk rumah tangga mereka berlayar di lautan yang tenang. Di tahun keempat, biduk mereka terseret ke pusaran lautan narkoba yang bergelombang ganas. Setiap kali mencuci baju, Yani mendapati di saku celana ada lintingan ganja dan sabu. Ketika ditanya, suaminya menjawab, “Itu punya teman.”

Yani tahu Daniel berbohong. Hal pertama yang ia lakukan adalah menangis dalam doa. Ia dengan sabar menemani Daniel yang kadang sakau, overdosis obat hingga digrebek polisi. Ia mengajak Daniel untuk aktif dalam kegiatan Gereja dan masuk pantai rehabilitasi.

Sekitar medio 2013, suaminya mengalami sakit liver yang memaksanya mendekam di rumah sakit. Setelah sembuh, Daniel bukannya membangun pola hidup sehat, malah kembali ke ruangruang gelap narkoba. Awal 2014, Yani menyampaikan sebuah berita gembira kepada Daniel: ia mengandung. Namun, kabar gembira itu hanya berlaku untuk Yani. Daniel tetap asyik dengan dunia narkoba. Yani yang kecewa hanya bisa berdoa seraya mengajak Daniel untuk berhenti. “Kalau saja saya tidak ingat janji pernikahan saya untuk sehidup semati, saya pasti bercerai,” ungkap Yani.

Usaha dan doa Yani akhirnya berbuah. Pada April 2015, Daniel resmi masuk panti Griya Anak Sayang yang dikelola oleh Keuskupan Agung Palembang. Karena letaknya jauh dari rumah, Yani hanya mengunjunginya dua kali selama enam bulan. Namun, doanya tak pernah berhenti. Setelah enam bulan direhab, Daniel bisa kembali ke rumah. Kehadirannya menjadi kado Natal bagi Yani. “Pada 3 Januari mendatang, anak kami akan genap satu tahun. Semoga ia (anak-Red) menjadi peretas ikatan antara Daniel dengan dunia narkoba.”

Edward Wirawan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 2 Tanggal 8 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*