Artikel Terbaru

Stephanus Michael Dwiprasetyo Widjanarko: Masih Ada Tephi di F1

Stephanus Michael Dwiprasetyo Widjanarko: Masih Ada Tephi di F1
1 (20%) 1 vote

Menuju F1
Momen itu, kata penguasa tiga bahasa asing ini, menetaskan keinginan menggebu untuk bekerja di F1 suatu saat nanti. Ia pun semakin serius mendalami dunia mesin. Hasilnya, Tephi lulus cum laude pada 2008.

Setelah lulus, ia magang selama tiga bulan sebagai Drilling Engineer Chevron di Balikpapan. Setahun kemudian ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 Sustainable Energy Technology di Universitas Twente, Belanda. Selama empat bulan, di tahun pertama kuliahnya, Tephi magang di Vestas Wind System A/S, Denmark pada posisi Aerodynamics Development Engineer. Di sana ia bertemu dengan salah satu bekas engine designer Toyota F1 dan berbincang mengenai suasana kerja di F1. Hasratnya untuk menuju F1 semakin berdebur keras dalam dirinya.

Lulus S2 dengan nilai memuaskan, pada 2011, Tephi diterima menjadi engineer di Dutch Aerospace Laboratory, Amsterdam untuk kerja setahun. Di masa akhir kontrak kerja, Tephi melamar ke beberapa perusahaan, termasuk Toro Rosso. Akhir 2012, Tephi yang sedang berkemas balik ke Bandung dipanggil Toro Rosso. Namun kepastian ia diterima baru diketahui setelah ia sudah di Bandung. “Mereka kirim jawaban via email dan meminta saya melengkapi dokumen untuk segera mulai bekerja,” katanya.

April 2013, Tephi resmi bergabung di Toro Rosso. Saat mulai bekerja, jelasnya, performa Aero Department dari tim Toro Rosso sangat tertinggal dibanding tim lain. Tephie mengaku senang, kini tim Toro Rosso menjadi salah satu tim dengan aero terbaik walaupun anggarannya kecil. Sejak awal bergabung, Tephie terlibat dalam fase terakhir pengembangan mobil TR8 hingga mobil TR12 untuk musim balapan 2017.

Tephi menyambut impian yang menjadi nyata dalam hidupnya; bekerja di belakang layar ajang balapan ini. “Saya tertarik, karena F1 sepertinya serba state-of-the-art atau pusat seni dari teknologi yang ada,” katanya.

Namun, ada satu kekecewaan kecil dalam diri Tephi. Mulanya, ia berpikir, sensasi bekerja di F1 adalah mengelilingi dunia dari satu negara ke negara lain. Tapi, pekerjaan yang ia geluti menuntut lebih banyak waktu Tephi untuk berada di kantor. “Saya sebelumnya berkantor di Faenza, Italia, pusat pengembangan tim. Kini saya berkantor di Inggris.”

Indonesia Bisa
Ritme kerja di F1, kata pemuda yang gemar mendaki gunung ini, sangat padat karena timeline-nya pendek-pendek sehingga hampir setiap hari ada deadline. Terlebih jika dihadapkan dengan perubahan regulasi yang besar. Para engineer berpacu dengan waktu untuk mendapat solusi terbaik. “Di sini tidak ada literatur yang tersedia di publik tentang bagaimana merancang sebuah mobil F1. Kita ditantang untuk mencoba hal baru dan mendesain hal baru dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar,” tegas Tephie.

Tephi, engineer Indonesia satu-satunya di F1 saat ini. Namun ia menilai peluang anak muda Indonesia untuk berkpirah internasional sangat besar. Saat ini, lanjutnya, ada banyak insinyur lulusan Indonesia yang memiliki karya handal, baik sebagai profesional maupun peneliti.

Stephanus Michael Dwiprasetyo Widjanarko [NN/Dok.Pribadi]
Stephanus Michael Dwiprasetyo Widjanarko
[NN/Dok.Pribadi]

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*