Artikel Terbaru

Haul Tujuh Tahun Wafat Gus Dur

Haul Tujuh Tahun Wafat Gus Dur
3 (60%) 2 votes

Dari situ menjadi jelas mengapa Gus Dur berarti begitu banyak bagi Indonesia. Bukan karena ia menjadi Presiden keempat RI. Sebagai presiden pun ia berjasa besar karena berhasil melepaskan negara dari cengkeraman militer dan karena, dengan mengakui konfusianisme sebagai agama resmi keenam, ia memantapkan pluralisme sebagai cirikhas Indonesia. Tetapi karena kebutaannya, barangkali juga karena ia terlalu percaya diri, ia akhirnya dianggap tidak memadai dan diberhentikan.

Jasa Gus Dur jauh lebih mendasar, sedemikian mendasar sehingga ia dapat saja ditempatkan dalam satu deretan dengan sosok-sosok utama Indonesia, seperti Soekarno. Kehebatan Gus Dur adalah bahwa ia menyatukan tiga hal yang mutlak perlu disatukan kalau Indonesia mau mantap: kebangsaan Indonesia, pluralisme, dan Islam. Dalam itu, ia memang berdiri dalam tradisi Islam mainstream Indonesia: kebangkitan Islam Indonesia menjadi bagian integral kebangkitan nasional. Bagi NU dan Muhammadiyah, Keislaman menyatu tanpa masalah dengan keindonesiaan, dan karena Indonesia secara hakiki majemuk–kesadaran mana mendasari Sumpah Pemuda–Islam Indonesia yang secara etnik dan budaya majemuk, sejak semula bersedia menerima kemajemukan Indonesia, termasuk kemajemukan keagamaan. Karena itu, mayoritas besar bangsa Indonesia yang beragama Islam bersedia menerima bahwa pada 18 Agustus 1945 Indonesia memberikan diri suatu Undang-Undang Dasar yang tidak memberikan kedudukan khusus kepada agama mayoritas. Sesuatu yang sebenarnya luar biasa.

Nah, Gus Dur bisa disebut pewujudan tiga sikap dasar keindonesiaan itu, keindonesiaan, agama, dan pluralisme. Seluruh perjuangan Gus Dur menanamkan ke dalam kesadaran bangsa, bahwa “Kita ini sama-sama Indonesia”. Karena itu, kita harus bersedia untuk saling mengakui dalam jatidiri masing-masing. Gus Dur bebas dari kekhawatiran, jangan-jangan umat mayoritas dirong-rong oleh minoritas. Maka ia membuka jalur komunikasi yang membantu umat Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu untuk mengatasi kecurigaan mereka terhadap umat mayoritas, sehingga dapat dibangun hubungan percaya satu sama lain di antara mereka.

Bagi Bung Karno, persatuan itu juga menjadi hasrat hati paling dalam. Tetapi ia melihatnya masih dari sudut nasionalisme dan antikolonialisme–hal mana tentu tepat–tetapi ia belum menyadari bahwa agama kalau tidak diarahkan bisa menjadi ancaman bagi persatuan bangsa. Itulah yang dilihat Gus Dur. Itulah sumbangan besar Gus Dur bagi kesatuan bangsa. Hubungan baru antara Katolik dan Islam, misalnya, mulai terwujud di tahun 70-an. Dari pihak Islam, sebut saja sosok luar biasa Nurcholish Madjid; dari pihak Katolik, Romo Y.B. Mangunwijaya dan Romo F. Danuwinata SJ. Pada akhir tahun 70-an, Gus Dur mulai semakin berperan. Dengan ia dipilih sebagai Ketua Umum Tanfidziyah NU tahun 1984, jadi pemimpin eksekutifnya, selama 15 tahun ia memperkenalkan umat-umat minoritas dengan NU-nya. Kalau di tahun 60-an dan 70-an hampir tidak terdapat hubungan apa pun antara Katolik dan NU, maka dengan Gus Dur, hal itu berubah. Sekarang hubungan antara agama-agama minoritas di Indonesia dengan organisasi Islam terbesar di dunia, ya NU, menjadi komunikatif dan akrab (dan bahwa Banser, milisi NU, di malam Natal dan Paskah menjaga banyak gereja kita membuktikannya).

Pengaruh Gus Dur tidak terbatas pada NU. Hubungan Kristiani dengan mainstream Islam sekarang di mana-mana cukup erat. Justru sekarang di mana fundamentalisme, kepicikan keagamaan, radikalisme dan ekstremisme menunjukkan wajah yang menyeramkan, adanya hubungan begitu relaxed dan positif antara Kristiani Indonesia dengan mainstream Islam merupakan modal besar bagi masa depan bangsa, tentu juga bagi keselamatan umat Kristiani sendiri. Adalah berkat tokoh nasional raksasa Gus Dur bahwa dalam suatu dunia yang sedang masuk perairan yang berbahaya, persatuan dan perdamaian nasional boleh diharapkan dapat kita selamatkan.

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 15 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*