Artikel Terbaru

Mgr Julianus Kema Sunarka SJ: Kesahajaan Hidup Pengelola Mamon

Mgr Julianus Kema Sunarka SJ: Kesahajaan Hidup Pengelola Mamon
3 (60%) 2 votes

Romo Narka juga sempat menjalani aneka perutusan di pusat “pemerintahan Gereja”. Ia pernah menjadi hakim Tribunal. Purna tugas di Kuria KAS, imam yang piawai mencari titik sumber air bawah tanah ini ditunjuk menjadi Rektor Seminari Tinggi St Paulus Yogyakarta. “Ketika itu, saya mengajukan gagasan, apa tidak sebaiknya kalau yang mengelola seminari ini imam-imam praja?” kenangnya.

Idenya disetujui. Meski demikian, Romo Narka mendapat tanggung jawab baru. Ia didapuk sebagai Ekonom Serikat Yesus Asia Tenggara selama tujuh tahun (1990-1997). Bila dirunut, karya pelayanan Romo Narka tak jauh dari “arta” (Jawa: uang); pun ketika mengelola lembaga Gereja, tanggungjawabnya tak jauh dari mengurus “mamon”.

Ketika masih frater, ia ditugaskan untuk mengelola Yayasan Kanisius, yang menaungi Sekolah-sekolah Kanisius di Semarang, Surakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya (1969-1971). Ia juga terlibat di sejumlah yayasan, antara lain Yayasan Sanjoyo, Driyarkara, Loyola, Strada, Bina Usaha Buruh Tani, Tarakanita, Melania, Bina Desa, dan Bhumiksara.

Sebelum ditahbiskan sebagai Uskup Purwokerto, Romo Narka menjadi Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan KWI (LPPS KWI) selama tiga tahun (1997-2000). Lembaga ini mengelola program-program sosial KWI. Lagi-lagi, ia bekerja mengelola dana dalam jumlah besar. Meski demikian, sepeda angin tua menjadi tunggangannya ke kantor.

Bubarkan LPPS
Pengalaman bertahun-tahun sebagai ekonom mendorong Romo Narka mengusulkan pembubaran LPPS. Dari penelitiannya, ia menemukan dan menguak berbagai ketidakbecusan dalam pengelolaan keuangan di lembaga itu. “Saya membuat kacau. Romo Narka ini bajingan sungguh-sungguh, mengacau!” ujarnya, menguak ketegangan dan reaksi banyak kalangan di KWI atas gagasannya itu.

LPPS dibubarkan. Subsidi dari Eropa, Amerika, dan Australia dihentikan. “Saya tak mengacau. Saya hanya membuka situasi bahwa kondisinya seperti ini. Yang membuat kacau ya yang kacau itu,” ungkapnya sembari tersenyum.

Berhenti dari LPPS, usia Romo Narka sudah 59 tahun. Ia membayangkan tugas seperti apa yang bakal dijalaninya pada usia yang mulai merangkak senja. “Saya sudah memasuki usia pensiun. Hampir semua teman di sekolah pendidikan guru sudah pensiun. Kalau saya mendapat tugas lagi, sifatnya hanya membantu, tak menangani pekerjaan pokok,” beber alumnus Sekolah Guru B St Yusup Ambarawa, Jawa Tengah ini.

Romo Narka membayangkan, mungkin perutusan selanjutnya mengajar mata kuliah Agama Asli Nusantara di STF Driyarkara Jakarta atau menjadi pamong anak-anak asrama di Papua sambil mengajar bahasa Inggris. Mungkin juga menjadi pembimbing rohani di seminari tinggi, mengingat pengalamannya sebagai Rektor Seminari Tinggi St Paulus Yogyakarta.

Mgr Narka bersama keluarga tokoh Muhammadiyah di Purwokerto. [HIDUP/Sutriyono]
Mgr Narka bersama keluarga tokoh Muhammadiyah di Purwokerto.

[HIDUP/Sutriyono]

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*