Artikel Terbaru

Mgr Julianus Kema Sunarka SJ: Kesahajaan Hidup Pengelola Mamon

Mgr Julianus Kema Sunarka SJ: Kesahajaan Hidup Pengelola Mamon
3 (60%) 2 votes

Seluruh dugaannya meleset. Pada Jumat, 12 Mei 2000, Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr Renzo Fratini memanggilnya. Nunsius mengabarkan, Bapa Suci Yohanes Paulus II menunjuk Romo Narka menjadi Uskup Purwokerto. Penunjukkan itu ternyata belum diketahui oleh Pater Provinsial Serikat Yesus Provinsi Indonesia, Romo Paulus Wiryono Priyotamtama SJ. Bahkan Pater Jenderal Jesuit di Roma, Pastor Peter-Hanz Kolvenbach SJ baru mengetahui sesudah mendapat laporan dari Indonesia.

Dari hasil diskresi bersama Provinsial, Romo Narka melihat penunjukkan itu sifatnya adalah dhawuh (Jawa: perintah), bukan penawaran. Ini sesuai dengan kaul ketaatan kepada Takhta Suci yang ia ikrarkan sebagai seorang Yesuit dengan gradus Profes. Komitmen itu tampak dari moto tahbisan episkopalnya, “Non Mea sed Tua Voluntas”, ‘Bukan Kehendakku, melainkan Kehendak-Mu yang Terjadi’.

Bantuan Seminari
Awal menjadi Uskup Purwokerto, salah satu perhatian Mgr Narka adalah manajemen keuangan Gereja. Ia mendorong agar lembaga-lembaga Gereja mengelola keuangan secara sehat. Misalkan, memiliki modal yang cukup untuk keberlangsungan lembaga itu sendiri. Perhatian lain Mgr Narka adalah pendidikan calon imam.

Ia mencetuskan dukungan dana untuk pendidikan calon imam. Dana itu diperhitungkan sekitar Rp 3 milyar. Sang Uskup berharap, dengan suntikan dana itu, pendidikan para calon imam Praja di keuskupannya bisa berjalan dengan baik. “Imam-imam dari kongregasi itu sewaktu-waktu bisa ditarik. Maka perlu menyiapkan imam-imam Praja,” kata Mgr Narka.

Program bernama Arka Seminari didukung oleh umat Keuskupan Purwokerto dan berbagai pihak. Pada 2004, dana Rp 3 milyar terpenuhi. Selain itu, Mgr Narka juga mendorong para imam Praja di keuskupannya melanjutkan studi master hingga doktoral.

Tahun 2016, usia Mgr Narka menginjak 75 tahun, usia seorang Uskup dapat mengajukan pensiun. Mgr Narka pun mengajukan pengunduran diri sebagai Uskup Purwokerto; dan pada 29 Desember 2016, Takhta Suci mengabulkan pengunduran dirinya.

Melalui milis Serayu-Net, Mgr Narka berpamitan kepada umat Keuskupan Purwokerto. “Mohon Pamit, selamat tinggal, dan selamat menikmati hidup Katolik. Maju terus pantang mundur. Saling mendoakan. Kalau Anda baru ke Semarang, silahkan mampir Girisonta. Selamat berjumpa lagi di surga,” tulisnya. Pada Rabu, 1/2, Mgr Narka akan berpindah ke Wisma Emmaus, rumah bagi para Jesuit purnakarya, di Girisonta, Semarang, Jawa Tengah.

Sutriyono

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 15 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*