Artikel Terbaru

St Jacques Honoré Chastan MEP (1803-1839): Ke Tanah Misi Tanpa Pelukan Ibu

St Jacques Honoré Chastan MEP (1803-1839): Ke Tanah Misi Tanpa Pelukan Ibu
2 (40%) 1 vote

Ketika tahu sang putra ingin menjadi imam, André dan Marie menyambutnya dengan sukacita. Di usia 14 tahun, orangtuanya mengizinkan Chastan untuk mencicipi pendidikan ala seminari dengan belajar bahasa Latin dari seorang imam di desa tetangga. Memasuki usia 15 tahun, Chastan masuk sekolah dasar di Digne. Kemudian pada 1820, Chastan melanjutkan pendidikannya di Seminari Menengah Embrun, Perancis.

Keteguhan hati Chastan untuk menjadi imam semakin tampak dengan keseriusannya mengasah kemampuan retorika dan bahasa Latin. Seorang gurunya mencatat, “Chastan memiliki karakter ceria. Kehadirannya selalu memecah kesunyian tembok biara yang kaku. Ia membuat dirinya dicintai oleh teman-teman sekolah. Ia memiliki kecerdasan, sangat rajin, dan melakukan segala sesuatu dengan baik.”

Selama menjalani masa formasi di Seminari Embrun, panggilan untuk bermisi semakin kuat. Lantas Chastan memutuskan bergabung dengan Perkumpulan Misi Luar Negeri Paris (Société des Missions Étrangères de Paris/ MEP). Chastan menulis sebuah surat kepada temannya, “Bersukacitalah bersama saya! Sukacita saya lebih besar daripada sukacita seorang lelaki yang merasa dirinya akan dipenjara untuk waktu yang sangat lama dan kemudian akhirnya dibebaskan.”

Akhirnya, impian masa kecilnya terkabul dengan menerima tahbisan imamat pada 23 Desember 1826. Ia merayakan Misa perdana di Gereja St Stefanus Marcoux, Perancis. Setelah itu, ia mengunjungi keluarganya sekaligus pamit untuk berangkat ke tanah misi.

Misi Korea
Pastor Chastan kemudian berangkat ke Paris untuk bergabung dengan MEP pada 13 Januari 1827. Pada 22 April 1827, atas persetujuan pimpinan MEP kala itu, Pater Jean Jacques Baroudel, Pastor Chastan berangkat ke Macau. Ketika tiba di Macau, ia justru mengungkapkan keinginannya untuk bermisi ke Korea karena mendengar misi di Korea terhambat oleh kekejaman Dinasti Joseon (1392-1897). Tapi permintaan tersebut ditolak. Ia justru diminta menjadi pengajar di Universitas Penang, sambil melayani di Paroki St Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di Pulau Tikus, Penang, Malaysia.

Beberapa tahun setelah permintaannya ditolak, Pastor Chastan mengirimkan surat khusus kepada Mgr Barthélemy Bruguière MEP (1792-1835) yang saat itu menjabat Vikaris Apostolik Korea (kini Keuskupan Agung Seoul, Korea Selatan). Berkat Vikaris Apostolik yang bergelar Uskup Tituler Capsus (1828-1829) itu, Pastor Chastan akhirnya
diizinkan bermisi ke Korea.

Ketika tiba di Korea, Pastor Pierre Philibert Maubant MEP (1803-1839) sudah lebih dulu merasul di sana. Berkat Pastor Maubant, Pastor Chastan bisa mengadakan kunjungan ke umat terpencil. Ia membaptis dan merayakan Ekaristi bersama mereka. Banyak orang menjadi Katolik berkat jasa dua Pastor MEP itu. Tercatat, keduanya membaptis sekitar dua ribu orang dewasa dalam setahun.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*