Artikel Terbaru

St Jacques Honoré Chastan MEP (1803-1839): Ke Tanah Misi Tanpa Pelukan Ibu

St Jacques Honoré Chastan MEP (1803-1839): Ke Tanah Misi Tanpa Pelukan Ibu
2 (40%) 1 vote

Pada 26 April 1836, Paus Gregorius XVI (1765-1846) mengangkat rekan mereka, Pastor Laurent-Joseph-Marius Imbert MEP (1797-1839) menjadi Vikaris Apostolik Korea dengan gelar Uskup Tituler Capsus, menggantikan Mgr Barthélemy. Ia ditahbiskan oleh Vikaris Apostolik Houkouang (kini Keuskupan Agung Changsha), Tiongkok, yang bergelar Uskup Tituler Sinitis, Mgr Giacomo Luigi Fontana MEP (1780-1838).

Mati Sahid
Situasi politik tak memungkinkan, saat Pastor Chastan ingin masuk ke Korea. Ia lalu menyeberang dari Manchuria, Tiongkok ke Korea. Saat ia akhirnya berhasil masuk Korea, Mgr Imbert membagi wilayah karya pastoral. Wilayah Timur diserahkan kepada Pastor Maubant dan wilayah Selatan kepada Pastor Chastan.

Sementara itu, penganiayaan terus dilancarkan oleh Raja Sunjo (1790-1834) dari Dinasti Joseon. Ia membunuh umat Kristiani terutama para misionaris. Penerusnya, Raja Heonjong (1827-1849) melanjutkan pembantaian kepada umat Kristiani hingga dua raja berikutnya, yaitu Raja Cheoljong (1831-1863) dan Raja Gojong (1852-1919). Lebih dari 100 tahun, penganiayaan terhadap Gereja Katolik di Korea berlangsung dan menelan korban sekitar 8.000 jiwa, baik misionaris, Uskup, imam, biarawan-biarawati maupun umat.

Mempertimbangkan kelangsungan misi di Korea, Mgr Imbert mengirim surat kepada Pater Maubant dan Pater Chastan agar menyerahkan diri. Pasalnya, pemerintah kian bengis pasca penangkapan dirinya dan mengancam akan membunuh semua umat Katolik jika misionaris asing tak menyerahkan diri. Dua imam MEP itu pun menyerahkan diri.

Akhirnya, tiga misionaris itu dieksekusi mati dengan cara dipenggal kepalanya di Saenamteo, 21 September 1839, setelah menjalani penyiksaan. Jenazah mereka dipertontonkan selama beberapa hari sebelum dimakamkan di Bukit Noku, Samseongsan. Di kemudian hari, jenazah para martir itu disemayamkan di bawah altar Katedral Myeongdong, Seoul. Pastor Chastan dibeatifikasi Paus Pius XI (1857-1939) pada 5 Juli 1925 bersama 78 martir Korea. Pada 6 Mei 1984, Bapa Suci Yohanes Paulus II (1920-2005) menggelarinya Santo bersama 102 martir Korea. Misa Kanonisasi digelar di Gereja Saenamteo, Seoul. Gereja memperingatinya tiap 21 September.

Hingga tutup usia Pastor Chastan tak pernah mendapat pelukan dan ciuman hangat dari ibunya. Ternyata, pamitan yang tidak mengenakkan di awal keberangkatannya ke tanah misi itu adalah pertemuan terakhir dengan orangtuanya.

Machella A. Vieba/Yusti H.Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 15 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*