Artikel Terbaru

Melejitkan Kembali Sekolah Katolik

Melejitkan Kembali Sekolah Katolik
Mohon Beri Bintang

Pertama, kemitraan. LSK menjadi kaki tangan dari sekolah Katolik yang bergabung di dalamnya untuk melakukan kerjasama dengan pihak luar. Ada tujuh kelompok yang menjadi sasaran utama kemitraan, yaitu eksekutif, legislatif, perguruan tinggi (negeri maupun swasta), LSM (dalam dan luar negeri), perusahaan (multinasional dan nasional), sekolah di luar negeri (milik yayasan Katolik dan non Katolik) dan sekolah dalam negeri (misal dengan Penabur, Pelita Harapan, Al Azhar).

Dari sisi eksekutif, tampak bahwa mayoritas sekolah Katolik kedodoran dalam bermitra dengan mereka. Padahal Kemendikbud, Kemenpora, Kemenag dan berbagai kementerian lainnya memiliki sumber daya material dan non material yang bisa dioptimalkan untuk diajak bermitra tanpa harus meninggalkan sisi idealisme sekolah Katolik. LSK ini bisa berperan menjadi jembatan untuk mempertemukan sekolah Katolik dengan lembaga eksekutif untuk melakukan kemitraan yang produktif.

Kedua, administrasi dan proses data. Tingkat persaingan antarsekolah begitu ketat. Ada kasus beberapa sekolah Katolik kebanyakan murid, sementara banyak yang lain justru kekurangan murid. Kasus lain antarsekolah Katolik juga bersaing karena lokasi berdekatan. Salah satu fokus LSK dalam kaitannya dengan administrasi dan proses
data adalah sistem penerimaan siswa baru yang terkoneksi antarsekolah Katolik. Jadi dengan mengunjungi jejaring sekolah Katolik di dunia maya, semua info tentang penerimaan siswa baru dapat diakses dengan mudah oleh para calon murid.

Kaitan lainnya dalam administrasi dan proses data adalah LSK menjadi sumber dalam pembuatan surat, proposal dan sejenisnya untuk berhubungan dengan pihak lain. Misal berhubungan dengan pihak eksekutif menyoal tentang Bantuan Operasional Sekolah (BOS), hibah maupun bentuk bantuan lainnya, LSK membantu sekolah Katolik mulai perencanaan, pembuatan proposal hingga presentasi ke pihak eksekutif. Pun semisal BOS dan sejenisnya itu diterima sekolah Katolik, LSK bisa mengawal sampai proses pelaporan paska penggunaan BOS.

Ketiga, standar nasional pendidikan Katolik. Salah satu keunggulan sekolah Katolik pada masa lalu adalah memiliki standar pendidikan sendiri tanpa harus bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Standar pendidikan sekolah Katolik mampu menjawab tantangan zaman, bahkan melampaui zamannya. Standar pendidikan sekolah Katolik menjadi rujukan sekolah-sekolah lainnya. Hal ini yang sekarang justru pudar. Standar pendidikan sekolah Katolik sebangun dengan sekolah lainnya. Bahkan tertinggal dengan sekolah-sekolah lainnya yang hari ini disebut “sekolah unggulan”.

LSK menawarkan gagasan untuk bersama-sama membuat standar pendidikan sekolah Katolik yang unggul, modern dan “berbeda namun aplikatif”. Standar pendidikan ini mulai dari isi kurikulum, proses pendidikan, kompetensi lulusan, sarana dan prasarana, pendidik dan tenaga pendidikan, pengelolaan hingga pembiayaan. Tak bisa dipungkiri bahwa setiap yayasan pengelola sekolah Katolik memiliki kekhasannya sendiri. Pun situasi sekolah di kota, pinggiran, dan pedesaan juga berbeda. Namun sinergi antarsekolah Katolik dari berbagai yayasan dan pengelolaan ini bisa menghasilkan standar pendidikan sekolah Katolik seperti dulu pernah menjadi daya pikat sekolah Katolik.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*