Artikel Terbaru

Melejitkan Kembali Sekolah Katolik

Melejitkan Kembali Sekolah Katolik
Mohon Beri Bintang

Keempat, penggalangan dana. Tak dapat dipungkiri bahwa organisasi apapun bentuknya hanya bisa berjalan lancar apabila ada uang untuk menggerakkannya. Pun dengan sekolah Katolik. Sumber pembiayaan dari uang sumbangan siswa hanya bisa dilakukan pada sebagian sekolah Katolik yang memang mematok tinggi. Sementara sebagian sekolah Katolik hidup dari subsidi yayasan (tarekatnya). Ketika sekolah Katolik saling bersinergi, LSK dapat berperan sebagai garda depan dalam penggalangan dana dari pihak luar.

Ada banyak sumber penggalangan dana ini, bisa dari pemerintah yang memang memiliki anggaran, tanggung jawab sosial perusahaan, donasi masyarakat, kegiatan penggalangan dana hingga bantuan dari luar negeri. Mengoptimalkan penggalangan dana dari berbagai macam sumber ini akan menjadikan sekolah Katolik memiliki dana untuk berinventasi pada pengembangan sekolah.

Kelima, manajemen SDM. Sekolah-sekolah non Katolik yang sekarang disebut “maju” dan “unggulan” pada dasarnya meniru sekolah Katolik pada masa lalu dengan berbagai modifikasi disesuaikan kebutuhan zaman. Salah satunya menyoal SDM, baik pendidik dan pengelola sekolah. Sekolah “maju” dan “unggulan” itu percaya bahwa SDM yang terampil merupakan aset utama sekolah. Karena itu, mengembangkan SDM menjadi sebuah kewajiban untuk berselancar mengarungi gelombang perubahan pendidikan.

Manajemen SDM dalam gagasan LPK seperti layaknya dalam perusahaan, dimulai dari proses rekrutmen, pelatihan, dan pengembangan, karir hingga pensiun. Ketika sekolah Katolik saling bersinergi, maka manajemen SDM ini akan menjadi mudah dan murah.

Keenam, manajemen pengadaan dan pembelian. Ketika pengadaan dan pembelian dikelola oleh LPK maka sekolah-sekolah Katolik akan memiliki posisi tawar-menawar tinggi terhadap pemasok. Apabila satu yayasan saja membeli perangkat komputer, maka pembelian itu tak lebih dari puluhan unit. Namun apabila bersinergi maka pembelian perangkat komputer ini akan berjumlah ratusan. Membeli puluhan dibanding ratusan unit tentu posisi tawarnya akan berbeda. Contoh seperti itu salah satu keuntungan dalam manajemen pengadaan dan pembelian.

Melihat enam tugas utama yang akan dikerjakan oleh LPK, pertanyaan kritis kemudian muncul. Apakah lembaga ini akan menjadi super body yang memiliki otoritas dan kekuasaan yang sangat besar? Tidak. LPK tak lebih semacam koordinator untuk mengelola enam bidang yang merupakan kebutuhan pokok sekolah Katolik untuk melejit kembali. LPK menjadi dirigen untuk mengelola orkestrasi kebutuhan dari berbagai sekolah Katolik.

Indra Charismiadji, A A.M. Lilik Agung

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 15 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*