Artikel Terbaru

Melayani Tak Kenal Gengsi

Melayani Tak Kenal Gengsi
1 (20%) 1 vote

Meski sibuk di Gereja, Adji tak pernah lupa pada tugas dan pekerjaannya sebagai guru di SD Negeri Wanaherang 07 Gunung Putri. Ia mengajar di sekolah yang mayoritas muridnya Muslim. Hanya ada dua guru Kristen, tapi Adji bisa menempatkan diri dengan baik. Ia sering dipanggil Romo dalam keseharian di Sekolah. “Kita harus menjadi saksi Kristus kapan pun dan di manapun,” ujarnya.

Usai mengajar, Adji bergabung dengan kelompok Pillar 22 (P-22), di Stasi St Vincentius pada malam hari. Kelompok doa ini berkumpul dan berdoa tiap malam pukul 22.00. Adji termasuk salah satu anggota termuda dalam kelompok itu. Tetapi wawasan dan cara pikirnya sangat dewasa. Ia bisa hadir dan berdiskusi banyak tentang Kitab Suci, teologi dan sejarah Gereja Katolik. Semua pengetahuan itu tak diperoleh dari bangku kuliah, tapi lewat berbagai bacaan yang ia lahap tiap hari. Menjelang tidur, ia masih menyempatkan diri membaca buku-buku kekatolikan.

Misionaris Modern
Lain halnya dengan Zakarias Mario Da Silva atau Zam. Anak muda yang punya aksi dengan segudang prestasi. Selain prestasi menyanyi, Zam pun aktif melayani di gereja. Pemuda kelahiran Jakarta, 26 tahun lalu ini adalah katekis yang sering mempersiapkan para katekumen, persiapan Komuni Pertama dan Krisma. Ia sangat disenangi anak-anak. Selain piawai mengajar, ia bisa menghidupkan suasana dengan cerita-cerita lucunya.

Sejak kecil, Zam bercita-cita menjadi guru, meski ayahnya pengacara dan ibunya perawat. Tak disangka, anak-anak Katolik yang belajar di Sekolah Negeri memintanya untuk mengajar agama. Zam memberikan nilai Agama Katolik untuk dilaporkan ke sekolah mereka. Keuletan dan kesetiaannya ini membuat teman-teman menjulukinya “misionaris zaman sekarang”.

Katekis Paroki Hati Kudus Kramat ini adalah guru seni musik di SD dan SMA St Belarminus Menteng. Ia merasa senang bisa berbagi banyak hal dengan banyak orang. Harapannya, kaum muda jangan gengsi menjadi katekis karena itulah panggilan mulia.

Lulusan Pendidikan Teologi Universitas Atmajaya ini mengatakan, salah satu kesulitan yang dialami paroki-paroki adalah kurang memberikan wadah bagi mereka yang ingin belajar. “Paroki kurang aktif secara langsung terlibat dalam proses katekumen, tapi hanya tahu pada saat sudah waktunya menerima sakramen,” tegasnya. Banyak pengalaman berharga ia cecap sebagai katekis paroki. Ia berharap, kelak anak didiknya bertumbuh menjadi pribadi yang luar biasa.

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Aprianita Ganadi, Marchella A. Vieba

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 1 Tanggal 3 Januari 2016

 

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*