Artikel Terbaru

Geluti dan Gumuli Budaya Literasi

Geluti dan Gumuli Budaya Literasi
1 (20%) 1 vote

Road Map
Dalam salah satu rekomendasi hasil rapat pimpinan SEKSAMA 2016, payung bersama ini didorong untuk membuka kerjasama sebagai mitra Gereja, terutama Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI). Namun, yang lebih penting adalah masing-masing anggota menempatkan SEKSAMA sebagai ajang berkomunikasi, saling belajar, berbagi, dan membantu. Masing-masing anggota harus merasa saling membutuhkan dan dibutuhkan karena sama-sama membawa amanah sebagai pewarta Kabar Baik.

Kini 2017, SEKSAMA sudah memiliki road map” sebagai arah bersama dan panduan bagi langkah selama minimal tiga tahun ke depan. Dalam kilas sejarahnya, aktivitas SEKSAMA sempat mengalami mati suri pada 2007. Selang dua-tiga tahun berikutnya, muncul pertanyaan dasar mengenai eksistensi SEKSAMA. “Jika di refleksikan, saya merasa SEKSAMA masih dibutuhkan sebagai ajang perjumpaan yang saling meneguhkan antaranggota, baik dalam peningkatan karya masing-masing maupun kerjasama yang saling menguntungkan,” tandas Warno.

Pada 2011 anggota mulai berkumpul lagi, merumuskan keinginan bersama, menyusun AD/ART tahun 2013, dan pengenalan lebih dalam masing-masing anggota ke arah kerjasama yang lebih baik. Hingga kini, asosiasi penerbit Katolik yang didirikan pada 1988 ini beranggotakan tujuh penerbit, yaitu Majalah HIDUP Jakarta, PT Kanisius Yogyakarta, PT Dioma Malang, Penerbit dan Toko Rohani OBOR Jakarta, Penerbit Nusa Indah Ende, CTC Bina tama Surabaya, dan Penerbit Bina Media Medan. Bahkan belakangan muncul wacana Penerbit Karmelindo berminat untuk bergabung sebagai anggota.

Soliditas yang kini terbangun antar anggota diharapkan dapat mempermudah kerjasama internal maupun eksternal. “Road map” SEKSAMA 2017-2019 ber fokus pada membangun gerakan literasi dengan menggandeng Komisi Komsos KWI, baik di tingkat keuskupan masing-masing maupun secara nasional. “SEKSAMA harus bahu-membahu, berjibaku menjemput bola, sembari mengkampanyekan budaya literasi,” tutur Romo Sutanto.

Sementara itu, Romo Hendrik secara khusus memfokuskan literasi pada anak. “Kegiatan literasi pada anak harus dikembangkan. Harapan saya, semoga seluruh komponen Gereja Katolik, terutama SEKSAMA dalam kerjasama dengan organ-organ Gereja atau sebaliknya, terus mendukung kegiatan literasi dalam Gereja, bukan untuk anak-anak kita saja, tapi juga anak-anak dalam masyarakat pada umumnya.”

R.B.E. Agung Nugroho

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 4 Tanggal 22 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*