Artikel Terbaru

Dari Mimpi Sampai Diskresi

Rangkaian acara HUT 95 tahun Kanisius (atas): Rekoleksi karya. (Bawah): Lomba Menggambar Kelas 4-6 SD bertajuk “Aku dan Penerbit-Percetakan Kanisius” (18 Desember 2016)
[NN/Dok. PT Kanisius]
Dari Mimpi Sampai Diskresi
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comKarya Penerbit-Percetakan Kanisius dirintis dengan mimpi menjadi sarana pewartaan Kabar Baik bagi Gereja dan masyarakat. Mimpi ini direalisasikan dalam peziarahan pelayanan hingga kini melalui diskresi tiada henti.

Canisius Drukkerij Djokjakarta begitu lekat di benak banyak kalangan dalam Gereja Katolik. Nama itu merupakan cikal bakal Penerbit-Percetakan Kanisius yang lahir pada 26 Januari 1922. Br Bellinus FIC membidani lahirnya karya pewartaan Gereja ini, atas inisiatif Pater J. Hoeberechts SJ, yang kala itu menjadi Superior Misi.

Lahir dari mimpi besar para pendahulu, Kanisius pelan tapi pasti mulai unjuk gigi. Bermodal dua mesin dengan tiga orang, mimpi mereka dimulai di gudang bekas pabrik besi di kompleks Bruderan Congregatio Fratrum Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis (FIC). Rintisan ini dikembangkan Br Bellinus hingga 1928. Tongkat komando lalu beralih ke tangan Br Bertinus FIC. Masa awal rintisan karya di Tanah Misi ini menjadi periode memupuk mimpi antara Gereja yang mulai tumbuh bersama keuletan para bruder FIC (1922-1965).

Sebuah Gerakan
Br Bertinus akhirnya digantikan Br Baldewinus FIC sejak 1933. Selain karyawan kian banyak, orderan pun meningkat. Kondisi ini mengharuskan mesin-mesin juga dilengkapi. Pendudukan Jepang cukup berdampak pada perputaran roda Kanisius. Kepemimpinannya pun sempat jeda selama pendudukan Jepang. Tahun 1946, kaum awam memimpin Kanisius: F.S. Atmasentana, Rob. Muradisewaja, dan J. Soekijat. Periode kemerdekaan RI, Kanisius banyak berkontribusi dalam derap perjuangan bangsa Indonesia. Lembaga ini bahkan sempat dipercaya mencetak Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Koran dan majalah perjuangan pergerakan kemerdekaan juga dicetak di sana. Mimpi para perintis ternyata sudah bisa berbuah manis.

Tampuk pimpinan pasca awam beralih kembali pada Br Baldewinus pada 1949-1965. Periode itu diwarnai dengan munculnya buku-buku pelajaran sebagai bentuk kontribusi terhadap pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pun tahun 1965 ditandai dengan pembelian tanah di Deresan, Yogyakarta, yang kini menjadi kantor pusatnya. Selain sudah berbuah manis, mimpi para pendahulu juga menjelma menjadi sebuah gerakan perubahan bagi Gereja dan bangsa Indonesia.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*