Artikel Terbaru

Br Kristoforus Pudiharjo OFM: Bruder Penggiat Pertanian Organik

Br Kristoforus Pudiharjo OFM: Bruder Penggiat Pertanian Organik
3 (60%) 2 votes

Menggugah Kesadaran
Br Pudi menyadari, banyak orang yang belum tahu cara bertani organik dan manfaat tanaman organik. Karena itu ia kerap kali menggelar pelatihan kepada khalayak. Pelatihan bisa dilakukan selama tiga jam, tiga hari, tiga minggu, atau tiga bulan. “Tetapi kalau mau paham betul itu dalam jangka waktu tiga bulan. Karena mengandaikan mulai pengelolaan tanah sampai panen itu selama tiga bulan,” jelasnya.

Banyak petani dan anak sekolah yang mengikuti pelatihan ini. Br Pudi bahkan pernah mengajarkan 300 orang perwira TNI yang mendukung gerakan ketahanan pangan. Pertanian organik disebut sebagai jalan ideal dalam mendukung ketahanan pangan.

Ketertarikan Br Pudi pada tanaman organik bermula saat bertugas di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Baru tahun pertama bertugas, sebuah rumah sakit yang dikelola Suster SSpS menelpon dia malam-malam. “Kata suster itu ada seorang ibu yang mengalami pendarahan tak henti-henti. Setelah diperiksa, darahnya penuh dengan urea,” kenang Br Pudi. Ibu itu tinggal di dekat sebuah pasar. Setiap hari, ibu itu mengkonsumsi sayur-mayur yang mengandung urea tinggi.

Keesokan hari, Br Pudi meminta umat menanam singkong; sepuluh tanaman singkong organik dan sepuluh tanaman singkong yang diberi pupuk urea. Selang berapa bulan, singkong-singkong itu dipanen. Hasilnya, singkong yang diberi urea terasa pahit, sedangkan singkong organik tak pahit. Hal itu memantapkan langkah Br Pudi untuk selalu membawa penyadaran akan pentingnya tanaman organik kemana pun ia bermisi.

Minim Modal
Dari segi modal, tanaman organik tidak membutuhkan modal yang besar, kecuali untuk membeli lahan. Br Pudi menyebut lima prinsip dalam mengelola tanaman organik. Pertama, mengembangkan benih secara mandiri. Benih yang dijual, katanya, telah diproteksi penjual supaya orang menjadi tergantung. Misal, benih kacang panjang ketika ditanam akan menghasilkan kacang yang baik dan panjang-panjang. Hasil panen kacang panjang dari benih yang dibeli ini ketika ditanam cenderung menghasilkan kacang panjang yang pendek-pendek. “Tapi, diantara yang pendek itu pasti ada yang panjang, nah itu yang nantinya akan menjadi benih. Karena alam tak bisa diproteksi,” urainya.

Kedua, penggunaan pupuk alamiah dengan kompos. Pupuk kompos dibuat dengan memanfaatkan keanekaragaman jenis tumbuhan di lingkungan pertanian. Penggunaan pupuk alami ini akan membuat tanah semakin subur, karena kandungan nitrogen yang baik. Penggunaan pupuk alami juga akan meningkatkan bakteri probiotik dalam tanah itu yang bekerja untuk menghidupi tanaman.

Ketiga, pengendalian hama dan penyakit. Hama seperti belalang atau ulat, jelas Br Pudi, merupakan tanda ada yang kurang dengan pertanian yang sedang digarap. Tanah yang asam akan menurunkan antibodi daun dari tumbuhan. “Serangga itu bukan musuh, tapi ia itu saudara. Dalam konsep pertanian organik, belalang datang berarti memberi tahu kepada kita bahwa ada sesuatu yang kurang pada tanaman,” tegas dia. Para petani, lanjutnya, kadang tak paham akan tanda itu. Serangga di perkebunan dianggap musuh lalu dibasmi dengan obat atau racun serangga. Hal ini justru merusak tanaman dan tanah.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*