Artikel Terbaru

Panti Asuhan Komunitas Anak Maria Immaculata (KAMI): Tumpangan yang Lapar dan Haus

Panti Asuhan Komunitas Anak Maria Immaculata (KAMI): Tumpangan yang Lapar dan Haus
4.3 (85.71%) 7 votes

Tidak Diterima
Mengelola panti asuhan dengan status kepemilikan seorang awam seperti Yulia punya tantangan tersendiri. Tidak semua Paroki mau menerima Yulia dan anak-anak panti asuhan ketika mereka meminta izin untuk mencari dana. Dulu, ketika awal berdiri beban itu terasa agak ringan karena Panti Asuhan KAMI masih ada di bawah naungan imam-imam Societas Missionariorum Sacratissimi Cordis (MSC). Tapi sejak beberapa tahun terakhir Panti Asuhan KAMI sudah terpisah dan berdiri sendiri. Mulai saat itu, aneka kendala dihadapi saat menghimpun dana untuk kehidupan panti.

Pernah juga, ada 60 orang menodong Yulia dengan pistol dan menuntut Yulia untuk berhenti mengurusi anak-anak dan menutup panti yang ia kelola. Saat itu Yulia hanya menjawab, “Apakah anak-anak yang lapar ini kau beri makan? Tidak! Apakah anak-anak terlantar ini kau perhatikan? Tidak! Jadi jangan ganggu kalau saya merawat mereka! Biar tangan saya hanya satu, saya tetap melayani mereka,” kata Yulia mengisahkan kembali pengalaman yang terjadi pada 2005 silam.

Meski banyak kendala, Yulia bersama para pengurus panti tidak patah arang. Justru situasi itu membuat mereka berpikir lebih kreatif bagaimana mendapatkan uang untuk menafkahi anak-anak panti. “Kami membuat beberapa patung rohani, seperti Bunda Maria, Tuhan Yesus, peristiwa Jalan Salib, hingga patung Dewi Kwan Im,” kata Irni.

Dalam proses kerja kreatif tersebut, anak-anak panti selalu dilibatkan. Namun sifatnya bebas, mereka boleh ikut membantu dan boleh juga tidak. Opsi ini diberikan Yulia karena ia sadar bahwa tidak semua anak panti beragama Katolik dan mau bekerja membuat patung. Selain itu, dalam keseharian di panti, anak-anak juga dididik untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, dan mencuci.

Tarian dengan gaya India yang diajarkan kepada anak-anak dipilih karena suami Yulia, Ajesh Keloth Meethal, berasal dari India. Pada 30 Januari 2016 yang lalu, mereka diundang tampil di Paroki St Paskalis Cempata Putih. Yulia berharap, anak-anak Panti Asuhan KAMI terus tumbuh dan berkembang. Sejak semula Yulia memang berniat untuk melayani anak-anak yang miskin dan menderita.

A. Aditya Mahendra

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 4 Tanggal 22 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*