Artikel Terbaru

Liku Panjang Episkopal Mgr Liku Ada’

Liku Panjang Episkopal Mgr Liku Ada’
1 (20%) 1 vote

Selama menjadi Vikaris Apostolik, Mgr Van Roessel sangat hati-hati mengambil keputusan. Jangan sampai ia membuat keputusan penting yang akhirnya mengikat Uskup yang akan diangkat kemudian. Selama itu juga ia tidak bisa menahbiskan imam diosesannya sendiri.

Secara umum ada tiga hal yang membuat Mgr Liku Ada’ khawatir dan takut menerima jabatan itu. Pertama, pertengahan 1970an, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan indonesianisasi tenaga pastoral. Pastor-pastor bule dilarang masuk dan berkarya di Indonesia, selain sebagai tenaga pendidik di lembaga-lembaga pendidikan calon imam. Pada saat yang bersamaan, tarekat Congregatio Immaculatai Cordis Mariae (CICM) menarik semua imam-imamnya yang selama itu bertugas di paroki-paroki di pedalaman Sulawesi Selatan. Jabatan pastor paroki diserahkan kepada imam dioses yang masih muda-muda. Ini membuat kondisi internal Keuskupan guncang.

Kedua, bersamaan dengan kelam kabutnya para imam dioses memegang tampuk pimpinan paroki, identitas imam praja juga belum terlalu jelas. Semangat persaudaraan di antara mereka belum terbentuk. Ketiga, saat menjabat Uskup Auxilier dan mengadakan kunjungan ke tengah umat, Mgr Liku Ada’ menerima banyak keluhan dan permintaan dari umat. Mgr Liku Ada’ menyimpulkan, ketika itu Uskup seperti penyelesai semua soal. “Dalam pertemuan, umat minta tambahan Romo, minta didirikan sekolah, aula, rumah sakit, dan macam-macam,” kata Mgr Liku Ada’. Mgr Liku Ada’ sadar bahwa ini terjadi karena Gereja Lokal Makassar pada masa itu baru merangkak dari status Gereja misi menjadi Gereja mandiri. “Itulah yang membuat saya sangat takut dan khawatir.”

Dukungan Keluarga
Syukur bahwa meski keluarganya bukan Katolik sejak awal, mereka sangat mendukung tugas-tugas pastoralnya. Dalam keluarga inti Mgr Liku Ada’, dialah yang pertama menjadi Katolik. Ia dibaptis waktu masih sekolah dasar di Toraja, Sulawesi Selatan. Begitu pula dengan adik-adiknya. “Kami sepuluh bersaudara, tapi tiga meninggal waktu masih kecil. Jadi kami tinggal bertujuh,” ujar Mgr Liku Ada’.

Orangtua Mgr Liku Ada’ dan keluarga besarnya adalah penganut agama asli Toraja, Aluk Todolo. Ketika Mgr Liku Ada’ dan adik-adiknya sudah menjadi Katolik, tinggal ayah dan ibunya. Tiga tahun setelah menerima tahbisan imamat, ia ditugaskan ke Toraja untuk memimpin retret. Saat mampir ke rumah, ibu nya minta dibaptis. Mendengar itu, Mgr Liku Ada’ menjawab, “Kalau ibu mau jadi Katolik harus belajar dulu.” Ibunya mengatakan bahwa ia sudah belajar dan siap di baptis. Ia mau supaya Mgr Liku Ada’ yang membaptisnya.

Saat semua sudah siap, ia bertanya kepada ibunya apakah dia sudah memilih nama pelindung. Ibunya mengatakan bahwa ia belum memilih. Maka Mgr Liku Ada’ langsung memilihkan nama pelindung “Maria”. Peristiwa itu jadi peristiwa yang amat membahagiakan baginya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*