Artikel Terbaru

Kelahiran Juru Selamat di Tempat Ziarah

Bintang Daud di bawah Gereja Nativity Bethlehem.
[vicbethlehem.wordpress.com]
Kelahiran Juru Selamat di Tempat Ziarah
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Peringatan Natal dirayakan di Tanah Suci dan beberapa tempat ziarah lain. Berikut kesaksian orang Indonesia yang merayakan Natal di negeri orang.

Natal di tempat kelahiran Yesus di Bethlehem, Palestina, tentu memiliki makna yang khas. Di kota itulah Yesus dilahirkan. Salah satu peziarah dari Indonesia yang pernah merasakan suasana Natal di Bethlehem adalah keluarga Ancelmus Apri Hartana (Apri) dan Catharina Martina (Katrin). Mereka berangkat bersama ketiga anaknya dalam rombongan peziarah Indonesia 26 Desember 2011.

Walau sedikit terlambat, 28 Desember, keluarga Apri bersama rombongan yang berjumlah 30 orang sampai di Bethlehem. Mereka kemudian menuju Gereja Nativity (Kelahiran Yesus) di Bethlehem sekitar pukul enam pagi dari penginapan. Suhu di kota itu yang mencapai empat derajat dan hujan mengiringi perjalanan rombongan menuju Gereja Nativity. Di bawah gereja, ada gua yang diyakini sebagai tempat kelahiran Tuhan Yesus. Di dalam gua itu ada sebuah altar yang di bawahnya terdapat Bintang Daud yang dipasang pada lantai marmer bertuliskan“Hic de Virgine Maria Iesus Christus natus est” yang berarti “Di sinilah lahir Yesus Kristus dari Perawan Maria.”

Rombongan diberi kesempatan turun ke gua itu untuk mencium Bintang Daud. Mereka mesti masuk dalam antrian seperti orang bersiap menyambut komuni menuju gua di bawah gereja. Setelah mencium Bintang Daud, pengunjung tidak diperbolehkan berlama-lama melihat tempat itu. Mereka hanya diperbolehkan bersujud dan mencium tempat Yesus dilahirkan.

Seusai mencium mereka kemudian naik kembali ke gereja. Di tempat itu Apri dan Katrin menyempatkan diri berdoa secara khusus untuk anak-anak mereka. “Tentunya kita ingin yang terbaik untuk anak-anak. Dan nantinya kalau mereka sudah bisa mandiri atau lepas dari kita kalau Tuhan mau pakai mereka silakan. Toh kita saat ini hidup juga hanya sebagai perantara atau alat atau kelanjutan tangan Tuhan untuk pelayanan,” ujar Katrin sambil mengenang kembali peristiwa itu.

Gereja yang megah itu tampak sepi dari aktivitas umat. “Mungkin karena hari perayaan Natal sudah lewat. Hari itu sudah tanggal 28 Desember,” ujar pria yang pernah menjabat Wakil Dewan Pastoral Paroki St Paulus Depok, Keuskupan Bogor, periode 2010-2013 ini kepada HIDUP di rumahnya di kawasan Tomang, Jakarta Barat, Rabu, 9/12.

Melihat bangunan Gereja Nativity yang megah, Katrin terkagum-kagum dengan hiasan mozaik yang dibuat secara detail. Menurut mantan Koordinator Seksi Pendidikan Paroki St Paulus Depok periode 2007-2010 ini, orang zaman sekarang tentu akan susah membuat bangunan dengan hiasan mozaik itu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*