Artikel Terbaru

Beato Luigi dan Beata Maria: Teladan Kesucian Hidup Berkeluarga

Beato Luigi dan Beata Maria: Teladan Kesucian Hidup Berkeluarga
1 (20%) 2 votes

Luigi sempat mengenyam kuliah di Fakultas Hukum, Universitas La Sapienza Roma. Ia mengantongi gelar Sarjana Hukum dan meniti karir sebagai advokat di lembaga pemerintah. Selain itu, ia bekerja di lembaga perbankan milik pemerintah dan otoritas pembangunan nasional. Pekerjaan ini membuatnya mengenal para tokoh politik Italia, seperti Luigi Sturzo, Alcide de Caspari, dan Luigi Gedda. Merekalah yang membangun stabilitas ekonomi Italia dan membebaskannya dari Fasisme dan Perang Dunia II (1939-1945).

Sebuah perjalanan ke Florence mengubah masa depan Luigi. Perjalanan itu berawal dari kunjungan pamannya ke rumah bangsawan Corsini di Florence. Di situ, Luigi bertemu Maria Corsini, seorang gadis berdarah bangsawan Florence. Orangtua Maria, Angiolo Corsini dan Giulia Salvi, masih membawa garis keturunan bangsawan Grenadiers. Mereka sangat simpatik dengan Luigi. Pertemuan ini pun berakhir di kursi pelaminan antara Maria dan Luigi pada 25 November 1905 di Basilika St Maria Maggiore, Roma.

Gereja Keluarga
Menjelang tiga tahun usia perkawinan, 15 Oktober 1906, Maria dan Luigi dikaruniai putra sulung, Filippo (1906-2003). Kelak ia menjadi imam Diosesan Italia dan dikenal dengan nama Pater Tarcisio. Stefania dan Cesare pun menyusul masuk biara. Cesare masuk biara Trapis di Italia. Ia dikenal sebagai Pater Paolino. Stefania (1908-1993) bergabung dengan Ordo Benediktin di Milan dan mengubah namanya menjadi Sr Maria Caecilia.

Akhir 1913, Maria hamil lagi. Kehamilan ini bermasalah. Dokter menganjurkan melakukan aborsi demi menyelamatkan nyawanya. Luigi dan Maria menolak. Mereka berserah pada penyelenggaraan Ilahi. Si bayi lahir dengan selamat pada 6 April 1914. Anak terakhir ini diberi nama Enrichetta (1914-2012). Si bungsu ini hidup selibat, serta mendedikasikan diri mengurus orangtua dan kakak sulungnya, Don Tarcisio pada masa tuanya.

Pengalaman iman ini membuat hubungan Luigi dan Maria kian bertumbuh dalam keutamaan Kristiani. Mereka makin giat memperdalam hidup rohani, rajin berdevosi, mengikuti Misa, retret, dan merenungkan Kitab Suci. Tiap sore, mereka berdoa Rosario dan berdevosi kepada Hati Kudus Yesus.

Don Tarcisio menilai orangtuanya adalah figur suami-istri yang amat serius dan kuat memegang prinsip. Meski kadang terasa terlalu ketat soal agama, mereka melakukannya demi kasih akan Allah dan sesama. Mereka memilih dialog untuk memecahkan persoalan dan berorientasi pada keharmonisan hidup bersama berdasarkan ajaran Kristiani.

Dalam Buku Radiography of a Marriage (1952), Maria menulis, “Sejak kelahiran Filippo, kami mulai berfokus padanya. Perhatian pertama, senyuman pertama, tertawa yang menggembirakan, langkah pertama, kata pertama, kecenderungan jelek yang dapat dilihat, justru membuat kami cemas. Kami pun membaca buku-buku psikologi anak agar dapat memahami buah hati kami. Kami mencoba menjadikan diri kami lebih baik dulu dengan mengoreksi karakter kami, baru membantu anak-anak untuk menjadi baik.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*