Artikel Terbaru

Beato Luigi dan Beata Maria: Teladan Kesucian Hidup Berkeluarga

Beato Luigi dan Beata Maria: Teladan Kesucian Hidup Berkeluarga
1 (20%) 2 votes

Mahkota Kesucian
Di celah kesibukan mengurus rumah tangga, Maria setia berdoa dan menulis. Kelahiran Florence, 24 Juni 1884 ini sangat aktif di berbagai organisasi, seperti Aksi Katolik Wanita Italia, Perawat Palang Merah ketika perang di Ethiophia dan Perang Dunia II, Pembina Pramuka bagi kaum muda di Roma, dan memberi Kursus Persiapan Perkawinan.

Setelah anak-anaknya hidup mandiri, Luigi dan Maria memutuskan untuk tak lagi melakukan hubungan suami istri. Mereka mempersembahkan diri kepada Tuhan bagi panggilan ketiga anaknya.

Luigi dan Maria menghabiskan masa tua di Depretis, kota bersejarah di Italia. Pada 9 November 1951, Luigi terkena serangan jantung. Ia meninggal pada usia 71 tahun.

Setelah Luigi meninggal, Maria bersama Enrichetta pindah ke Serravalle, Allesandria, Italia. Selang 14 tahun menjanda, Maria meninggal di pelukan putri bungsunya pada usia 81 tahun, 26 Agustus 1965. Ia dimakamkan di samping suaminya di Santuario della Madonna del Divino Amore, Roma. Sr M. Caecilia menyusul orangtuanya menghadap Tuhan, 1 Maret 1993, setahun sebelum proses beatifikasi orangtuanya.

Proses beatifikasi Luigi dan Maria dibuka pada 18 Oktober 1994. Lalu pada 7 Juli 2001, Bapa Suci Yohanes Paulus II (1920-2005) menggelari mereka Venerabilis dengan mengesahkan Dekrit Keutamaan Kristiani sebagai pasutri. Berkat mukjizat penyembuhan lewat perantaraan doa pasutri ini, Luigi dan Maria digelari Beato dan Beata oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II pada 28 Oktober 2001. Mukjizat penyembuhan itu dialami seorang pemuda yang mengalami kelainan peredaran darah. Kini pemuda itu menjadi Dokter Ahli Bedah Syaraf di Milan, Italia. Misa Beatifikasi dihelat di Lapangan St Petrus Vatikan, dan dipersembahkan oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II.

Misa Beatifikasi itu dihadiri tiga anak mereka, Pater Tarcisio, Pater Paolino, dan Enrichetta. Bapa Suci menegaskan, Luigi dan Maria adalah pasutri yang tahu bagaimana mencintai dan menghormati pasangan dalam pengalaman hidup berkeluarga. Mereka tak pernah kehilangan hati meski menghadapi berbagai pengalaman sulit. Mereka berjuang dengan rahmat Allah dan menapaki jalan menuju kesucian hidup berkeluarga yang serba biasa. Gereja menghormati pasutri ini tiap 25 November, sesuai dengan hari peringatan ulang tahun perkawinan mereka.

Yusti H. Wuarmanuk/
R.B.E. Agung Nugroho

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 51 Tanggal 20 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*