Artikel Terbaru

Peziarahan “Berbahaya” di Benua Hitam

Peziarahan “Berbahaya” di Benua Hitam
1 (20%) 1 vote

Ketika berkunjung ke Markas PBB di Nairobi, Paus Fransiskus berbicara tentang penyelamatan lingkungan hidup. Paus banyak menyitir ensiklik terbarunya, Laudato Si’. “Kurangi dampak perubahan iklim, perangi kemiskinan, dan hormatilah martabat manusia,” ujar Paus tegas. Ia mengajak dunia internasional mendengarkan jeritan penderitaan masyarakat Afrika akibat perubahan iklim global.

Pada hari terakhir di Kenya, Jumat, 27/11, Paus mengunjungi pemukiman kumuh Kangemi, tak jauh dari pusat kota Nairobi. Di sini terdapat lebih dari 150.000 warga yang hidup berdesak-desakan. Tak jauh dari Kangemi, terdapat kawasan kumuh Kibera, yang kerap disebut daerah kumuh terbesar dan terpadat di dunia. Nairobi dikelilingi enam pemukiman kumuh.

Dengan menumpang mobil kepausan, Paus Fransiskus masuk ke Kangemi. Ribuan orang menyambut Paus di tepi jalan yang tampak baru saja dilapisi aspal. Pasukan pengaman berlarian mendampingi mobil yang ditumpangi Paus.

Di Kangemi, Paus mengunjungi Gereja St Joseph Pekerja yang dikelola imam-imam Yesuit. Ia berkata, “Bagaimana mungkin saya tidak mengecam ketidakadilan! Mereka yang minoritas hendak menggenggam kekuasaan dan kekayaan, lalu menyianyiakan. Sementara mayoritas warga dipaksa lari ke pemukiman kotor, rusak, dan terpinggirkan!”

Uganda Syuhada
Setelah dua malam menghirup udara Kenya, Paus Fransiskus melanjutkan peziarahan pastoral ke Uganda. Selain menggelar pertemuan diplomatik dengan otoritas Uganda, Paus juga mengunjungi situs Martir Uganda, bertemu orang muda di Kololo Air Strip Kampala, bertemu warga miskin di House of Charity Nalukolongo, serta menjumpai para uskup, biarawan-biarawati, dan seminaris.

Penduduk Uganda mayoritas beragama Kristen; lebih dari 40 persen beragama Katolik. Pada 2050, Uganda diperkirakan akan menjadi negara dengan penduduk mayoritas Katolik. Negara ini memiliki sejarah kekristenan yang membanggakan, yang sering disebut “Uganda Syuhada” atau “Martir Uganda”. Para syuhada tersebut terdiri 23 umat Gereja Anglikan dan 22 umat Gereja Katolik. Para martir Uganda ini dihukum mati Raja Mwanga dari Kerajaan Buganda pada 1886, lantaran dicurigai sebagai agen penjajah negara-negara Eropa setelah dibaptis.

Uganda adalah salah satu negeri yang paling terpukul dengan penyebaran virus HIV/ AIDS. Tingkat penyebaran virus mematikan di negeri ini termasuk yang paling tinggi di kawasan Afrika.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*