Artikel Terbaru

Peziarahan “Berbahaya” di Benua Hitam

Peziarahan “Berbahaya” di Benua Hitam
1 (20%) 1 vote

Pada Desember 2013, milisi Kristen menyerang pemukiman Muslim, di mana Oumar Kobine tinggal. Bersama keluarga dan beberapa warga, Oumar Kobine mengungsi. Mgr Nzapalainga membuka Gereja St Paulus di Bangui sebagai tempat berteduh komunitas Muslim selama lima bulan. Sebelumnya, pada Agustus 2013, Pendeta Nicolas Guerekoyame dijebloskan ke penjara lantaran terlalu keras mengkritik Presiden Francois Bozize. Mgr Nzapalainga pun menyatakan sikap agar dirinya ikut dipenjara bersama Pendeta Nicolas Guerekoyame.

Tahun lalu, mereka mengadakan “misi perdamaian” ke sejumlah negara, termasuk Vatikan. Mereka mendesak agar negara-negara lain turut serta menghentikan pertumpahan darah di Afrika Tengah. Mereka bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon dan Paus Fransiskus. September 2014, pasukan perdamaian PBB dikirim ke Afrika Tengah.

Di Bangui, Paus menjumpai para pengungsi, bertemu dengan komunitas ekumene, serta memimpin perayaan Ekaristi di Katedral Bangui. Ia juga membuka Pintu Kudus di Katedral Bangui sebagai permulaan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi. “Ini merupakan tanda iman dan harapan bagi masyarakat Afrika Tengah, serta membuka harapan bagi masyarakat Afrika yang masih hidup dalam penderitaan,” kata Paus.

Pada hari terakhir kunjungan di Afrika Tengah, Senin, 30/11, Paus Fransiskus berkunjung ke salah satu Masjid Agung di Bangui. Kawasan ini berada dalam zona larangan pergi. Ini adalah basis milisi Islam. Di hadapan komunitas Muslim, Paus berkata, “Ini adalah sukacita yang besar bagi saya. Kristen dan Muslim adalah saudara. Tindak kekerasan yang terjadi di negeri ini bukanlah berlatarbelakang agama. Mereka yang mengaku beragama selalu menjadi agen perdamaian. Kristen, Muslim, serta agama-agama tradisional telah lama hidup berdampingan dan bersatu di sini. Kita harus berani mengatakan tidak untuk kebencian, tidak ada balas dendam, serta tak ada lagi kekerasan, terutama kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Allah adalah damai.”

Saat menggelar audiensi umum, Rabu pagi, 2/12, di Lapangan St Petrus Vatikan. Paus membagikan cerita dan harapan. “Saya pergi ke Afrika dengan pesan penuh harapan dalam Yesus yang bangkit. Kenya merupakan negara yang diberkati dengan sumber daya yang besar. Di Kenya, saya berbicara tentang arti penting melindungi lingkungan hidup secara adil, terbuka, dan berkelanjutan. Di sana, saya juga berjumpa dengan orang-orang muda yang harus didampingi dengan cara-cara yang damai dan penuh persaudaraan. Uganda, ‘Tanah Martir”. Saya mendorong komunitas kristiani agar bertahan dalam iman serta berani menjadi ragi harapan bagi masyarakat. Sementara di Republik Afrika Tengah, negara yang sedang dilanda konflik dan penderitaan, untuk pertama kali, saya membuka Pintu Kudus dalam rangka Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi. Ini merupakan tanda dan kekuatan bagi saudara-saudari kita di Afrika.”

Y. Prayogo

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 50 Tanggal 13 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*