Artikel Terbaru

Theresia Sudarini Soekarno: Ingin Kutukar Semua ini dengan Surga

Theresia Sudarini Soekarno: Ingin Kutukar Semua ini dengan Surga
1 (20%) 2 votes

Berkat peran itu, Darini membukukan namanya sebagai perempuan pertama yang mejadi wasit dalam dunia sepak bola di tanah air. “Honor besar. Saya bisa beli televisi seharga 70 ribu rupiah dan oleh-oleh untuk keluarga. Televisi itu masih ada dan jadi kenang-kenangan,” ungkap Darini terkekeh.

Darini juga penggagas terbentuknya perkumpulan sepak bola perempuan Provinsi D.I. Yogyakarta. Perkumpulan itu berubah menjadi Perkumpulan Sepak Bola Wanita Putri Mataram Yogyakarta. Darini membawa kesebelasan ini berjaya, baik sebagai pemain maupun pelatih.

“Jujur saja, saya bermain sepak bola hanya sebagai bentuk perjuangan eman sipasi perempuan kala itu. Jika laki-laki bisa dan boleh bermain sepak bola, mengapa perempuan tidak mendapat perlakuan yang sama?” katanya. Darini masih terus merumput kendati mendapat pasangan dan menikah tahun 1963. Bahkan, saat usia sudah berkepala tiga, ia masih sempat mencecap kedigdayaan bersama kesebelasannya.

Di sela-sela jadwal latihan dan pertandingan sepak bola, Darini aktif di organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Sejumlah jabatan ia emban, antara lain Ketua WKRI Ranting Tegalrejo dan Ketua WKRI Kota Yogyakarta.

Ibu lima anak dan sebelas cucu itu hingga kini masih giat menangani bidang pendidikan di organisasi tersebut. Darini juga giat di Yayasan Dharma Ibu Yogyakarta. Ia menjadi Sekretaris Yayasan. Meski tidak menerima uang sepeser pun dari yayasan yang punya puluhan Taman Kanak-Kanak Indriasana di pelosok Kota Gudeg itu, Darini tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Dalam setiap aktivitasnya Darini tidak mengharapkan hasil materiil. “Saya tidak dibayar mengerjakan semua itu, bahkan terkadang nombok. Tetapi, semua akan saya lakukan semampu saya. Rejeki itu milik Tuhan dan sudah diatur. Lagipula jika meninggal nanti, semua itu tidak dibawa ke dalam kubur toh,” ujarnya sambil tersenyum di pendapa rumahnya.

Totalitas Pelayanan
Totalitas pelayanan terbesit pula ketika Ketua Rukun Tetangga (RT) meminta Darini menyelamatkan masa depan perpustakaan di tempat tinggal mereka. Di tengah usianya yang sudah senja, ia menghidupkan kembali dan memperbaiki administrasi perpustakaan siang dan malam. Lagi-lagi, ia tidak digaji.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*