Artikel Terbaru

Theresia Sudarini Soekarno: Ingin Kutukar Semua ini dengan Surga

Theresia Sudarini Soekarno: Ingin Kutukar Semua ini dengan Surga
1 (20%) 2 votes

Mengeluhkah Darini karena tidak mendapatkan hak pekerjaannya? Sama sekali tidak! Ia justru menyumbang banyak bukunya sewaktu masih menjadi guru dan mahasiswi untuk perpustakaan di kampung halamannya. Menurut umat Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang ini, buku-bukunya akan lebih berguna bagi banyak orang jika ada di perpustakaan.

Meski tidak mendapat honor, dan juga menyumbang banyak buku, ternyata Darini memberi lebih banyak lagi. Ia masih mau membagi pengetahuannya untuk anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah. Pensiunan guru golongan IVD itu membuka bimbingan belajar untuk anak-anak pra sejahtera secara gratis. Peran yang sama juga ia lakoni di gereja. Darini menjadi katekis dan pewarta di Sekolah Penginjilan Shekinah.

Saat berada di rumah, Darini tak berhenti berkarya. Selain mengolah kebun sayur, cabe, dan tomat, pada malam hari ia rutin bermeditasi dan merefleksikan pengalamannya. Berkat olah batin nan intens itu, ia mampu melahirkan kumpulan doa yang kemudian dibukukan.

“Saya sudah konsultasi ke Pastor Paroki. Menurut Romo, tak masalah jika buku itu diberikan kepada umat. Buku ini saya beri gratis kepada umat yang membutuhkan. Lewat karya itu juga saya belajar beramal, mendekatkan manusia dengan Tuhannya. Sungguh hari-hari ini terasa manis,” katanya dengan penuh syukur.

Berkat meditasi pula, Darini mampu memadukannya dengan keterampilan pijat yang ia pelajari lewat kursus, buku, dan mandiri. Perpaduan itu ternyata menuai hasil positif. Dinas Kesehatan Provinsi D.I. Yogyakarta menerbitkan surat ijin operasional untuk praktik penyembuhan melalui meditasi dan pijat. Lagi-lagi, ia pantang memungut biaya.

Menurut Darini, selama proses penyembuhan, pasien yang ia pijat tak akan merasa sakit. Justru ia seperti mengambil alih rasa gering yang hinggap di raga pasien. Tak ayal, usai memijat dengan meditasi, Darini merasa sangat kelelahan. Nyaris seluruh energinya terkuras. Meski demikian, Darini tak kapok mengobati sesamanya yang sakit. “Semua saya persembahkan untuk memuliakan Tuhan,” ungkapnya mantap.

Susana KY / Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 50 Tanggal 13 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*