Artikel Terbaru

F.X. David Wijaya: Melawan Sunyi, Mengukir Prestasi

F.X. David Wijaya: Melawan Sunyi, Mengukir Prestasi
1 (20%) 1 vote

David bersyukur, banyak pelanggan menyukai busana rancangannya. Dari situ ia bisa mengumpulkan pundi-pundi untuk menopang hidup, membantu keluarga, dan sesamanya yang membutuhkan.

Penikmat busana rancangan David terbesar berasal dari masyarakat umum. Bagi David, ini menjadi tantangan. Demi memahami maksud calon pengguna jasanya, ia harus bisa menyimak gerak bibir orang yang berada di hadapannya. Kosa kata para penyandang tunarungu terbatas. Tantangan kian njelimet jika lawan bicara memakai bahasa daerah atau prokem. “Meski sulit, saya harus terus berusaha. Saya minta mereka berbicara pelan-pelan.”

Tak ada usaha yang imun dari komplain pembeli atau pemakai jasa. Adagium itu rupanya pernah dialami David. Ia harus kerugian konsumennya. Pengalaman itu menjadi pemecut motivasinya untuk kian berkembang.

Kendati bekerja dan terjun ke sejumlah karya karitatif, seperti bakti sosial dan kunjungan kepada warga lanjut usia, David tak mengabaikan keluarga. Sebagai anak laki-laki tertua, ia sadar tanggung jawab sebagai salah satu penopang ekonomi keluarga. David juga menjaga dan mengurus orangtuanya, terlebih sang ayah yang menderita gangguan syaraf otak. Tak heran seluruh perhatiannya terfokus kepada orangtua, karya, dan pelayanan.

Mengubur Mimpi
David telah bersahabat karib dengan kesunyian. Ia tak mengutuk keadaan yang dialaminya. David justru bersyukur, dalam kondisi yang terbatas itu, Tuhan menunjukkan kuasa kepada umat-Nya melalui dia.

Penyuka olahraga badminton ini sempat bercita-cita merambah dunia fesyen nasional. Tapi mimpi itu telah ia kubur dalam hati. Bagi David, hidup sederhana asal masih bisa bernapas dan berbuat suatu hal positif untuk orang lain sudah lebih dari cukup. Pun hingga kini David tak berhenti bersyukur atas anugerah yang ia dapat dari Tuhan. Meski hampir 44 tahun ia hidup dalam sunyi, David telah mengukir prestasi dan melakukan sejumlah aksi kemanusiaan. Kata Rasul Paulus kepada umat di Korintus, “…, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

Anna Marie Happy/Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 6 Tanggal 5 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*