Artikel Terbaru

Berhenti Tak Berarti Mati

Berhenti Tak Berarti Mati
1 (20%) 1 vote

Di Keuskupan Agung Semarang, paroki-paroki kerap memintanya memberkati kapel atau memimpin Misa. Kini Mgr Blasius tinggal bersama keluarganya di Gamping Lor, sekitar lima kilometer dari Gereja Paroki Maria Assumpta Gamping, Yogyakarta. Ia menikmati waktu luangnya dengan membaca buku dan mendengar ocehan burung kenari, sulingan, dan ciblek milik keponakannya.

Meski usianya tidak muda lagi, Mgr Blasius bersyukur masih bisa melayani orang lain. Namun ia pun memperhatikan beberapa hal. Kini berat badannya 95 kilogram, meski sudah berjuang, jarum timbangan seolah tak mau turun dari angka 90. Mgr Blasius juga alergi debu. Selain itu ia juga mengalami nyeri di lututnya. “Tulang rawan lutut saya pernah dioperasi. Saat berkarya di pedalaman, saya harus berjalan di lumpur. Jadi, kalau pelumas di lutut mulai berkurang, terasa nyeri. Tiap enam bulan harus disuntik,” ungkapnya.

Tiada “Mati”
Kesibukan juga masih mewarnai masa purnakarya Mgr F.X. Sudartanta Hadisumarta OCarm. Ia kerap memberikan rekoleksi dan retret di penjuru Nusantara. Uskup Emeritus Manokwari- Sorong ini selalu berurusan dengan petugas keamanan bandara tiap kali ke keuskupan lain. Deteksi metal meraung saat ia diperiksa.

Di kaki kirinya tertanam metal. Itulah “oleh-oleh” 15 tahun berkarya di Papua. Keterbatasan moda transportasi dan kondisi geografis dengan rawa dan hutan lebat kerap ia tempuh dengan jalan kaki. “Surat dokter saya bawa setiap bepergian,” kata Mgr Hadi sambil menunjukkan kaki kirinya yang menghitam.

Pendengaran dan penglihatan Mgr Hadi pun berkurang. Jika berkomunikasi, ia selalu minta agar suara agak besar dan perlahan-lahan. Lalu saat berada di depan komputer, ia memperbesar tampilan di layar menjadi 140 persen dengan huruf Times New Roman ukuran 14. “Mata saya mulai terganggu saat kecelakaan di Pematang Siantar, enam tahun setelah jadi imam,” kenangnya.

Mgr Hadi tak mau tumbang dengan keadaan. Kegiatan harian ia mulai pukul 05.00 dan berakhir di atas pukul 23.00. Uskup yang hobi sepak bola dan voli ini tak bisa beristirahat sebelum tengah malam. Bila tak memberi retret di luar kota, ia berada di ruang kerjanya, berkawan buku dan komputer.

Membaca, menyadur buku, mempersiapkan bahan retret, rekoleksi, atau seminar merupakan litani kegiatannya di hari tua. Sejak sembilan tahun lalu, Mgr Hadi tinggal di Wisma Karmel, Tomang, Jakarta Barat. Tiap Selasa, pukul 06.00, ia memimpin Misa Harian di Kapel Theresia Lisieux, Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) Tomang. Selama Masa Adven dan Pra-Paskah, ia mendengarkan pengakuan sejak pukul 17.00-22.00. Beberapa kali ia membantu Uskup Agung Jakarta menerimakan Sakramen Krisma. “Meski tak ada lagi yurisdiksi, saya masih seorang imam. Berhenti (sebagai uskup) tidak berarti mati. Tak ada kata pensiun bagi seorang imam. Selama masih bisa, maka harus melaksanakan karya pastoral,” katanya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*