Artikel Terbaru

St B A R C Ar-Rayès: Mistikus Perempuan dari Katolik Maronit

St B A R C Ar-Rayès: Mistikus Perempuan dari Katolik Maronit
1 (20%) 1 vote

Ikuti Kata Hati
Pada 1859, kala sedang khusyuk berdoa di depan patung Bunda Maria Sang Pembebas, Boutrossieh mendengar bisikan, “Boutrossieh, kamu akan menjadi biarawati.” Pengalaman ini seolah mengkonfirmasi impiannya sejak masa kanak-kanak. Ia pun bergabung dengan Kongregasi Para Suster Mariamite yang didirikan oleh misionaris Jesuit, Pater Youseff Gemayel SJ, yang masih berkerabat dengan almarhumah ibunya. Ia memakai nama Sr Anissa yang dalam Bahasa Arab berarti “wanita baik hati”. Ia meluangkan waktu memperdalam Bahasa Arab, kaligrafi dan matematika. Melihat semangat dan hasil belajarnya, ia ditugaskan mengajar di Deir al-Qamar.

Demi ketaatan, Sr Anissa me nyanggupinya meski Deir al-Qamar menjadi target pembantaian umat Maronit oleh kaum Druze. Banyak koleganya mengkhawatirkan keselamatan Sr Anissa. Namun, mereka justru dikuatkan oleh ketaatan dan keberanian Sr Anissa.

Mempertimbangkan keselamatan Sr Anissa, Superior Mariamite memindahkannya ke Byblos, kemudian ke Maad. Ia diutus ke Maad atas desakan Antoun Issa, seorang pengusaha kaya. Issa menghendaki agar di Maad didirikan sebuah sekolah bagi anak-anak perempuan. Isaa sendiri meminta restu Pimpinan Tertinggi Maronit, Patriarkh Boulos I Masaad (1854-1890) agar mengizinkan para suster Mariamite berkarya di Maad. Ia bahkan menghibahkan sebuah rumah sebagai biara para suster.

Kehadiran Sr Anissa di Maad amat dinantikan. Ia mendirikan sekolah di sana. Lagi-lagi, krisis ekonomi memaksa para Jesuit untuk menggabungkan Kongregasi Mariamite dan Kongregasi Hati Kudus dari Zahle. Para suster diberikan kebebasan memilih. Mereka boleh bergabung dalam kongregasi gabungan, atau melamar ke biara lain, pun boleh meninggalkan kaul kebiaraannya.

Ikut Menderita
Sr Anissa menyerahkan pilihannya kepada Allah dalam doa. Suatu malam ia bermimpi bertemu tiga pertapa agung, St Antonius, St Georgius dan St Simon. Dalam mimpinya, St Simon memintanya bergabung dengan para rubiah Maronit, yakni Baladite (Ordo Maronit Lebanon).

Keesokan harinya, Sr Anissa pun masuk biara Baladite di Pertapaan St Simon al-Qarn di daerah Aito. Ia mengambil nama Sr Rafqa, sebagai penghormatan atas mendiang ibunya. Rafqa adalah Bahasa Arab untuk Ribka, yakni istri Ishak dan ibu dari Esau dan Yakub dalam Perjanjian Lama.

Cintanya pada Kristus membuat Sr Rafqa merindukan untuk bisa menderita bersama-Nya. Pada Oktober 1885, ia berdoa agar Allah memberinya penyakit dan penderitaan seperti Yesus. Benar, doanya terkabul! Tak lama kemudian, ia merasakan sakit luar biasa. Matanya membengkak dan terasa seperti terbakar.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*