Artikel Terbaru

Kerahiman Allah, Intisari Hidup Gereja

Kerahiman Allah, Intisari Hidup Gereja
Mohon Beri Bintang

Tahun Pemurnian
Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi akan dibuka 8 Desember 2015, pada hari raya St Maria Tak Bernoda. Bunda Maria, bersama dengan Allah Tritunggal, ikut menghadiahkan Juru Selamat kepada dunia. Tepat 50 tahun yang lalu, pada tanggal yang sama, ditutuplah Konsili Vatikan II, konsili pertama yang menggunakan bahasa yang agak mudah dicerna kaum awam. Paus tentu berharap supaya Tahun Yubileum ini menjadi tahun pemurnian total dari dosa (ingat Maria Immaculata) dan sekaligus tahun yang akan membahasakan kekayaan kerahiman Allah sedemikian rupa, sehingga semua orang akan tahu nilainya dan cara mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.

Supaya umat Gereja disucikan, Paus akan membuka Pintu Suci yang perlu dilewati sebagai ziarah pertobatan, demi memperoleh pengampunan dalam Sakramen Rekonsiliasi. Belas kasihan tidak mungkin tumbuh dalam Gereja selama individu/kelompok tertentu tidak merasa berdosa, padahal dosa mereka mungkin sangat mengguncangkan Hati Tuhan. Selain itu, Paus menetapkan acara khusus yang diberinya nama “24 jam bagi Tuhan” (jatuhnya 4-5 Maret 2016). Paus minta supaya dalam kurun waktu 24 jam itu semua warga Gereja menerima sakramen pertobatan.

Selama Tahun Yubileum, seluruh umat Katolik dapat memperoleh anugerah Indulgensi yang memungkinkan masing-masing mereka yang hidup maupun yang masih dimurnikan di Purgatorium, dihapus segala akibat dosanya. Para imam, selama tahun ini, diberi kuasa untuk mengampuni dosa aborsi, sedangkan para Misionaris Kerahiman yang akan diutus oleh Paus selama Masa Prapaskah 2016, akan diberi wewenang mengampuni dosa yang selama ini menjadi hak Paus sendiri atau wakilnya. Tentu saja, acara Tahun Yubileum akan padat, dan kiranya berbeda dalam masing-masing keuskupan. Namun, tujuan semua acara itu sama, yaitu mengalami belas kasihan Allah yang mengampuni, lalu mampu meneruskan belas kasihan itu kepada setiap orang. Kerahiman Allah dialami secara nyata, bahkan menjadi peristiwa, pada saat manusia berekonsiliasi dengan Allah lewat Gereja dalam sakramen pertobatan. Pada saat itu, manusia sungguh melihat dirinya sendiri dengan mata Allah yang Maharahim.

Apa yang ingin dicapai Paus Fransiskus melalui Tahun Yubileum Luar Biasa ini? Pertanyaan ini singkat, tetapi jawabannya tidak terlalu mudah. Sebab, karena terkagum-kagum pada Kerahiman Allah Tritunggal, Paus sungguh menghindari rumus-rumus kaku dan kalimat berbau definisi. Ia sering membiarkan kata-katanya mengalir secara spontan saja. Yang jelas, Paus menghendaki supaya berkat Tahun Yubileum, umat Katolik menyadari bahwa mereka dipanggil untuk menjadi “tanda dan sarana” kerahiman Bapa surgawi. Gereja harus menjadi teladan pengampunan (“bagi kita, pengampunan merupakan tindakan yang harus dilakukan, tidak dapat tidak!”, Bulla #9). “Setiap khotbah dan kesaksian Gereja kepada dunia hendaknya selalu dilengkapi dengan belas kasihan”. “Kredibilitas Gereja tampak dalam cara ia menunjukkan kasih yang murah hati dan penuh belas kasihan”. Maka, Paus berseru, “Sekaranglah saatnya untuk kembali ke basis dan untuk ikut merasakan keprihatinan serta pergulatan saudara-saudara kita” (#10). Pendek kata, “Gereja menghayati kehidupan yang otentik apabila ia mengakui dan memaklumkan belas kasihan, sifat yang paling menakjubkan dari Sang Pencipta dan Penebus, dan apabila ia membawa manusia makin dekat ke sumber belas kasihan Sang Juru Selamat” (#11).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*