Artikel Terbaru

Kerahiman Allah, Intisari Hidup Gereja

Kerahiman Allah, Intisari Hidup Gereja
Mohon Beri Bintang

Tahun Yubileum akan ditutup 20 November 2016. Pada hari itu Paus akan melambungkan doa syukur kepada Tritunggal yang Mahakudus, lalu mempercayakan kehidupan Gereja, segenap umat manusia, dan seluruh alam semesta, kepada Tuhan Yesus Kristus, sambil memohon kepada-Nya kerahiman-Nya (Bulla, #5).

Makna bagi Indonesia
Pada akhir pembahasan singkat ini, kiranya baik diajukan pertanyaan ini, “Apa makna Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi bagi Gereja Katolik Indonesia?” Makna dan nilai suatu perayaan yang berlangsung selama setahun tentu ditentukan oleh umat yang berpartisipasi di dalamnya. Tujuan mereka apa dan apa yang ingin mereka capai? Tahun Yubileum ini tidak jatuh dari surga tanpa alasan. Tuhan sendiri mengatur sejarah dunia dan Gereja-Nya. Kerahiman dikumandangkan dalam seluruh Kitab Suci, dan selalu diperhatikan oleh Gereja, namun tidak pernah diakui sebagai intisari hidup Gereja. Gereja memahaminya bertahap-tahap berkat berbagai intervensi Tuhan dalam hidup para pilihan-Nya. Paus Yohanes Paulus II adalah paus pertama yang membahas kerahiman ilahi secara teologis dan praktis. Penggantinya mendukung pendahulunya sepenuh hati. Paus Fransiskus muncul di cakrawala Gereja sebagai “bintang yang cemerlang”. Terangnya menyoroti dengan tajam harta yang lama tersembunyi dalam Gereja.

Dampaknya untuk Gereja di Indonesia? Pertama, jika para gembala bersama dengan domba-dombanya menerima bahwa belas kasihan adalah pangkal keselamatan manusia, bahwa orang yang tak berbelas kasih dapat saja tidak pernah menikmati kebahagiaan (Mat 25: 31-46), maka mereka pasti akan membuka hati untuk menerima belas kasihan sebagai pola hidup sehari-hari. Gereja yang berbelas kasih akan siap menyambut Yesus yang akan datang untuk kedua kalinya. Kedua, karena kebanyakan dosa manusia melawan belas kasihan, maka boleh diharapkan bahwa para gembala dan domba-dombanya akan lebih serius menyikapi Sakramen Rekonsiliasi. Supaya jangan sampai sakramen ini hanya diberi dan diterima pada hari Natal-Paskah saja. Ketiga, diharapkan supaya umat Katolik di Indonesia memanfaatkan apa yang sudah diakui oleh pimpinan Gereja sebagai devosi kepada Kerahiman Ilahi. Devosi selalu fakultatif, tetapi bukan sekali saja terbukti dalam sejarah, bahwa devosi menyelamatkan iman umat. Devosi yang satu ini terpusat pada Allah Tritunggal, tetapi sangat mengutamakan sakramen rekonsiliasi, Ekaristi, renungan sengsara Yesus, doa demi orang-orang berdosa.Keempat, alangkah baiknya jika para gembala – seturut teladan Paus sendiri – mempersembahkan seluruh Indonesia kepada Allah yang Maharahim. Jika ini terjadi, umat Katolik Indonesia akan makin mantap mengandalkan Yesus.

Stefan Leks
Pengamat Teologi Kerahiman Ilahi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 48 Tanggal 29 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*