Artikel Terbaru

Tahun belas kasih dan pengampunan Allah

Tahun belas kasih dan pengampunan Allah
Mohon Beri Bintang

Estherina mengaku dengan menghayati kerahiman ilahi, ia lebih bisa menerima “keadaan” sebagaimana adanya. “Saya juga merasa lebih mengerti orang lain sehingga tidak mudah menuntut,” ujarnya. Salah satu pengalamannya ketika ia bekerja di perusahaan properti. Kala itu, ia meminta izin untuk pelayanan di Flores. Ketika tengah memberikan seminar kerahiman ilahi, Direktur HRD menghubungi dan meminta Estherina kembali ke Jakarta karena tidak mendapat izin. Pengalaman ini secara tidak langsung berimbas kepada karirnya. Esther menerima kenyataan itu dan tetap bersyukur. “Saya yakin Tuhan izinkan ini terjadi. Saya berusaha menangkap pesan yang Tuhan mau sampaikan, dan menerima rencana Tuhan bagi saya,” jelasnya.

Sementara Haryanto mengungkapkan penghayatan devosi kerahiman ilahi yang ia lakukan dengan hidup mengandalkan Tuhan dan berbelas kasih kepada sesama. “Ini membuat kita semakin hari semakin dekat dengan Allah dan sesama, serta mudah memaafkan dan peka terhadap sesama di sekitar kita. Devosi ini juga berpengaruh besar dalam panggilan untuk pelayanan Gereja. Kita menjadi lebih bersemangat dan bertanggung jawab dalam tugas pelayanan,” ujar umat Paroki St Andreas Kedoya, Jakarta Barat ini.

Menyambut Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi yang ditetapkan Paus Fransiskus, pasutri Estherina-Haryanto dan anggota Lumen Christi yang lain berencana untuk mengikuti pembukaan perayaan ini pada 8 Desember. Mereka juga berencana akan mengadakan seminar kerahiman ilahi dan menyediakan waktu 24 jam bagi Tuhan sesuai anjuran Bapa Suci.

Semakin Dekat
Umat lain, Maria Regina Widyastuti pun berusaha untuk menghidupi kerahiman ilahi dalam hidup hariannya. Perempuan kelahiran Solo, Jawa Tengah, 26 Desember 1947 ini mulai tertarik dengan kerahiman ilahi pada 2002. Dua tahun sebelumnya, anaknya dan sang ibu mengikuti seminar kerahiman ilahi.

Dalam menghayati kerahiman ilahi, beragam pengalaman mewarnai perjalanan Tuti. Ia merasa Tuhan menyentuhnya lewat pengalaman hidup. Misalnya saat upacara penciuman salib pada hari Jumat Agung 2004, tangisnya pecah. Ia merasa tidak layak di hadapan Tuhan. Ketika ia berkunjung ke Sinai 2005, ia pun mengalami hal yang sama. “Saya kolaps. Saya berpikir saya berlebihan. Waktu itu saya melihat matahari terbit seolah hosti. Begitu juga saat saya diminta memimpin jalan salib di Golgota. Pada perhentian ketujuh saya menangis. Mungkin saya terlalu emosional.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*