Artikel Terbaru

Tahun belas kasih dan pengampunan Allah

Tahun belas kasih dan pengampunan Allah
Mohon Beri Bintang

Ketika kembali ke Indonesia Tuti berusaha untuk adorasi dengan membayangkan Sakramen Mahakudus di hadapannya. Ia mendaraskan doa Bapa Kami setiap pukul sembilan pagi. Pengalaman yang ia alami ini turut menguatkan dalam refleksinya tentang “Tuhan yang sungguh mencintai manusia”.

Penghayatan Tuti terhadap kerahiman ilahi dalam hidup harian membawanya kepada pengalaman kerahiman ilahi yang dialami sesama. Ia seolah dipanggil untuk mendampingi dan mendoakan teman yang sakit, hingga saat sakratul maut.

“Orang yang sekarat pun dipakai Tuhan untuk menunjukkan Tuhan maharahim, menunjukkan bagaimana kerahiman ilahi bekerja. Kita semua dipersiapkan untuk menerima kerahiman ilahi. Ini membuat saya makin hari makin tidak bisa lepas dari-Nya. Dia memegang kita dengan sabar. Dia mencintai kita tanpa batas. Ia memberikan sarana kepada kita untuk dekat dengan-Nya,” tutur ibu tiga anak ini.

Bagi Tuti, Tuhan tahu orang-orang mana yang membutuhkan kerahiman-Nya. “Kita hanya sebagai ‘kurir’-Nya. Ini tidak mudah, tapi kalau Tuhan berkehendak, bagaimana lagi.”

Menyambut Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi yang dibuka Paus Fransiskus, Tuti berharap bisa ikut ambil bagian untuk mengenalkan kerahiman ilahi kepada orang lain. “Kerahiman ilahi ini sebagai sarana kita untuk semakin menjadi anak yang berkenan kepada-Nya. Kita diberi kesempatan untuk merindukan, dekat, merasa takut kehilangan Dia. Dan kita pun makin mencintai Dia, meski ini tidak mudah dilakukan,” ujarnya. Tuti bersyukur atas pengalaman yang boleh ia alami, pengalaman cinta Tuhan kepada manusia. “Saya bersyukur atas semua ini dan pasrah kepada Tuhan dan kehendak-Nya.”

Maria Pertiwi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 48 Tanggal 29 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*