Artikel Terbaru

Martir Zaman Modern

Martir Zaman Modern
3.7 (73.33%) 3 votes

Romo Emanuel Martasudjita
Dewan Penasihat Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang

“Saya mengenal Mgr Johannes Pujasumarta sebagai imam yang menghayati kemartiran. Bukan kemartiran dalam bentuk harafiah seperti para martir di abad-abad pertama yang dibunuh karena imannya, tetapi kemartiran dalam pelayanan penggembalaannya. Saya berpikir dan merenungkan, inilah bentuk kemartiran modern.”

Romo Ignatius Triatmoko MSF
Sekretaris KAS

“Saya mengakui, meski sakitnya tidak kunjung sembuh, namun setiap waktu luang selalu dimanfaatkan Uskup Puja secara optimal untuk memberikan pelayanan kepada umat dan mendampingi para romo agar sungguh menjadi gembala yang baik. Mgr Puja juga menegaskan Ardas KAS yang tahun ini habis, menuju Ardas yang baru, dengan merumuskan yang lebih jelas. Dalam merumuskan Ardas baru ini ia berharap melibatkan orang-orang yang bisa mengamati sosiologi.”

Romo Triatmoko mendampingi Mgr Puja pada saat-saat terakhir. Menurutnya, Mgr Puja telah berpasrah diri. Pada harihari terakhir sebelum wafat, dokter yang merawat tak kuasa menolak keinginan Mgr Puja yang meminta pulang sebentar ke Wisma Keuskupan. “Ketika kondur(pulang), saya ditimbali (dipanggil). Mgr Puja menyebut satu nama anak asuhnya. Mgr Puja memang perhatian kepada anak asuh,” kata Romo Triatmoko.

Sebelum wafat, tim dokter berkumpul bersama sejumlah imam dan dua adik perempuannya. Mereka mengelilingi Mgr Puja yang terbaring lemah. Mereka berdoa sembari menyanyikan lagu-lagu rohani, terutama lagu kesayangan Mgr Puja berjudul “Piye Pelikane” (Bagaimana Burung Pelikannya). “Kami mengadakan ibadat. Nafas Bapak Uskup mulai tak teratur. Matanya terbuka terus. Tapi, menjelang arwahnya meninggalkan raga, mulut dan mata Bapak Uskup terkatup, lalu terlihat lelehan air mata,” ungkap Romo Tri menahan sedih.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*