Artikel Terbaru

Saring Sebelum Sharing

Saring Sebelum Sharing
3 (60%) 2 votes

Upaya verifikasi terhadap berita-berita yang beredar di dunia maya menjadi suatu hal yang penting, karena tidak semua informasi memuat hal positif. Salah seorang founder gerakan Mafindo, Catharina Widyasrini mengatakan, hoax adalah informasi yang sudah direkayasa sedemikian rupa untuk menutupi informasi yang sebenarnya. Hoax juga bisa diartikan sebagai upaya memutarbalikkan fakta dengan menggunakan informasi yang meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Hoax bisa menimbulkan rasa tidak aman dan tidak nyaman serta kebingungan, sehingga masyarakat diharapkan mengambil keputusan yang salah.

Sementara, Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) Romo Kamilus Pantus mengatakan, dilihat dari sisi perspektif iman Kristiani, hoax sama dengan bohong. Penyebaran hoax masuk dalam kategori dosa; dosa terhadap diri sendiri karena melawan kebenaran suara hati dan menjerumuskan orang lain ke dalam pemahaman sesat.

Penyebaran Hoax
Menurut Puspita, penyebaran berita hoax melalui media sosial dan gadget mulai marak sejak media sosial populer digunakan masyarakat. Awalnya, hoax di media sosial muncul dalam bentuk ejek-ejekan (bullying). Kemudian berkembang luas, terutama pada momentum-momentum tertentu, terkait dengan isu politik. Seperti sekarang, musim Pemilihan Kepala Daerah serentak, banyak berita hoax beredar di dunia maya. Media sosial yang sebelumnya digunakan untuk menyampaikan berita-berita positif, kini jadi media kampanye negatif.

Selain dunia politik, hoax yang tersebar di tengah masyarakat luas juga berkedok agama. Gereja Katolik pun sudah terkena imbas dari sebaran hoax ini. Karena itu, Puspita menganjurkan agar Gereja Katolik segera mengambil sikap. Bisa jadi, hoax yang saat ini kian menjamur dalam lingkungan Gereja karena Gereja sendiri belum memiliki mekanisme untuk merespon secara cepat dan tanggap terkait hoax. “Atau jangan-jangan malah umat kita sendiri yang menyebarkan berita bohong itu,” kata Puspita.

Maka, lanjut Puspita, pertanyaannya bukan lagi siap atau tidak siap, melainkan apakah Gereja memiliki kesadaran untuk membangun mekanisme tanggap dan respon secara cepat. Kemudian siapa yang mempunyai kewenangan untuk itu. Misalkan, di level Keuskupan atau Paroki ada seksi khusus yang bertugas mengklarifikasi atau memverifikasi berita-berita yang beredar saban hari.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*