Artikel Terbaru

Serba Bisa di Segala Medan Kerasulan

Serba Bisa di Segala Medan Kerasulan
1 (20%) 1 vote

Sebagai katekis, Stanis tak hanya memimpin ibadat dan berkatekese soal kekatolikan atau liturgi, tapi juga melatih kor umat. Pada Oktober 2014, berdasarkan SK Keuskupan Agung Medan, katekis asal Manggarai, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur itu ditarik ke pusat Paroki Hati Kudus Banda Aceh. Kepala Paroki Romo Herman Sahar mendampuknya sebagai guru agama di pastoran bagi siswa Katolik dari sekolah negeri tiap Jumat.

Di Banda Aceh, hanya ada satu sekolah Katolik, yakni Budi Dharma. Di lembaga pendidikan milik Keuskupan Agung Medan itu, Stanis mengajar agama Katolik dan Seni Budaya. Ia juga mendampingi orang muda di paroki serta ormas Pemuda Katolik.

Tantangan yang ia hadapi ketika di Banda Aceh adalah tak semua umat bisa atau bersedia rumah mereka “ketempatan” doa Lingkungan. Alasan yang kerap mengemuka adalah faktor keamanan lingkungan sekitar. Demi menyiasati kondisi itu, tak jarang kegiatan umat berlangsung di pusat paroki. “Tapi kondisi itu justru membuat iman saya kuat dan terus tumbuh,” ungkapnya.

Perkembangan Gereja
Berbagai kisah para pelayan pastoral tersebut hanyalah sekelumit suka-duka yang dialami para katekis di berbagai keuskupan. Masih banyak tantangan yang dirasakan pewarta awam di seluruh penjuru wilayah Indonesia. Menjadi katekis memang tak mudah. Inilah salah satu panggilan mulia kaum awam. Mereka harus menghadapi medan menantang dan situasi sosial masyarakat yang beranekaragam.

Menjadi katekis tak sekadar mewartakan iman dan mengajar soal kekatolikan. Mereka juga harus bisa menjawab kebutuhan umat secara konkret. Tak pelak, ada katekis yang mengajarkan umat membaca, menjadi tabib, melatih kor, atau mendampingi ekonomi keluarga dan organisasi massa yang kadang berbau politis. Seorang katekis dalam realitasnya dituntut serba bisa di segala medan pastoral.

Peran yang tak mudah itu membuat Bapa Suci Yohanes Paulus II berterima kasih kepada para katekis. Dalam dokumen Catechesi Tradendae (16 Oktober 1979), Bapa Suci mengakui bahwa berkat merekalah kita dapat melihat perkembangan Gereja hingga hari ini. Meski karya mereka dipandang rendah dan tersembunyi, lanjutnya, ini merupakan satu panggilan yang luhur dan kudus.

Latar belakang itu mendorong Majalah HIDUP–sejak empat tahun lalu–menggalang bantuan lewat program “Dibayarkan Orang” (DBO). Ada sekitar 4.000 lebih katekis di seluruh Indonesia yang mendapat Majalah HIDUP secara gratis berkat bantuan umat. Sampai saat ini, Majalah HIDUP terus berupaya menyalurkan media pewartaan dan bacaan rohani Katolik ini sebagai bentuk perhatian Gereja kepada mereka yang setia merasul di garda depan.

Yanuari Marwanto
Laporan: Maria Pertiwi, Edward Wirawan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 8 Tanggal 19 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*