Artikel Terbaru

Sr Stefani SSpS: Terpesona Sedulur Sikep

Sr Stefani SSpS: Terpesona Sedulur Sikep
1 (20%) 1 vote

Bagi komunitas itu, hanya bertanilah cara untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sebab berdagang merupakan pantangan bagi komunitas yang selalu mengenakan pakaian hitam ini. Menurut mereka, dalam berdagang orang pasti mencari untung. Agar bisa meraup bonanza, para pedagang berbohong soal harga. Menipu merupakan perbuatan tak terpuji.

Sr Stefani langsung tertarik dengan tawaran itu. Romo Didik memintanya menghubungi Romo Alexius Kurdo Irianto. Pastor Paroki St Willibrordus Cepu itu mengenalkan Sr Stefani kepada Y. Parwadi, umat Paroki St Pius X Blora. Lewat Parwadi, Sr Stefani bersama beberapa koleganya berjumpa dengan salah satu Penatua Sikep, Gunretno di Sukolilo, Pati.

Mereka tinggal di rumah pasangan muda Sikep, Roso dan Siti. Sr Stefani tertegun dengan pandangan hidup dua sejoli itu. Kata mereka, seperti dikutip Sr Stefani, “Wong urip iku kudu nglakoni opo sing dilakoni lan nglakoni apa yang diakoni, orang hidup harus menjalankan apa yang menjadi tugasnya dan menjalankan apa yang diyakini. Dua minggu tinggal bersama mereka, menjadi pembelajaran hidup penuh berkat bagi saya.”

Sr Stefani melihat dan merasakan kegigihan orang-orang Sikep berjuang untuk menyelamatkan alam Kendeng. Rumah Gunretno tak pernah sepi dari tamu dan warga yang seperjuangan dengannya. Mayoritas mereka adalah petani. Hampir setiap hari, Gunretno juga mengunjungi dan mendampingi warga terdampak pabrik semen. Sr Stefani mengikuti langkah Gunretno hingga jauh malam.

Gunarti dan Tatik, tokoh perempuan Sikep, juga bergerilya ke rumah-rumah dan sawah warga, agar mereka tak menjual tanah kepada perusahaan semen. Mereka juga membagi informasi tentang dampak buruk kehadiran pabrik semen bagi sesama kaumnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*