Artikel Terbaru

Sr Stefani SSpS: Terpesona Sedulur Sikep

Sr Stefani SSpS: Terpesona Sedulur Sikep
1 (20%) 1 vote
Sr Stefani (baju batik) bersama keponakannya dr Alexandra Herlina di bawah tenda perjuangan menolak pabrik semen.
Sr Stefani (baju batik) bersama keponakannya dr Alexandra Herlina di bawah tenda perjuangan menolak pabrik semen.

Para ibu juga mendirikan tenda perjuangan di tengah hutan. Mereka bermalam secara bergilir di tenda beratap plastik, tanpa penerangan listrik. Keluarga, rumah, sawah, dan ternak mereka tinggalkan demi satu permohonan: menolak pendirian pabrik semen. “Dua hari saya di tenda. Meski tenda itu sederhana, aura kegigihan dan ketulusan perjuangan mereka amat terasa,” ungkap Pemimpin Komunitas Syalom Batu, Malang, Jawa Timur ini.

Bertemu Yesus
Sr Stefani tertegun dengan wong Sikep dan warga yang berjibaku menyelamatkan alam Kendeng. Ia mengakui, ia bertemu Yesus dalam rupa wong Sikep dan warga yang memperjuang an keselamatan banyak orang, lewat jalan damai.

Usai libur, mantan pendamping postulan ini membagikan pengalaman kepada Provinsial SSpS Provinsi Jawa saat itu, Sr Ines Setiono SSpS. Ia juga menceritakan kisah serupa kepada sesama suster, keluarga, dan umat. Ada yang tertarik dengan kisahnya lalu langsung terlibat; tapi ada juga yang tak tertarik karena menganggap seluruh perjuangan itu bakal sia-sia.

Ia bersyukur, orang-orang terdekat mendukung keinginannya dan perjuangan wong Sikep dan warga. Suster Provinsial mengizinkan Sr Stefani tinggal bersama wong Sikep atau warga selama beberapa hari tiap bulan. Beberapa suster juga ikut bersamanya tiap ia ke sana.

Komunitas SSpS juga membuka pintu bagi wong Sikep dan warga tiap kali usai menggelar aksi di sejumlah kota. Keponakannya yang seorang dokter, Alexandra Herlina memberikan layanan medis kepada warga hingga kini.

Sr Stefani telah menjatuhkan pilihan. Ia berada di pihak Sikep dan warga yang menolak kehadiran pabrik semen. “Saya berada di posisi memihak kepada kehidupan dan mereka yang dipinggirkan, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Saat ini, mau diapakan Pegunungan Kendeng itu?”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*