Artikel Terbaru

St Nicholas Flüe (1417-1487): Tinggalkan Segala Demi Panggilan Mulia

St Nicholas Flüe (1417-1487): Tinggalkan Segala Demi Panggilan Mulia
1 (20%) 1 vote

Nicholas dikenal sebagai pemuda yang rajin berdoa dan dermawan. Saat berusia 21 tahun, ia menjalani wajib militer. Nicholas menjadi salah satu serdadu dalam perang melawan Zürich (1439). Ia juga bergabung dalam pasukan di pertempuran Ragaz (1446). Selain itu, ia turut bertempur dalam perang Thurgau melawan Pangeran Sigismund dari Austria (1460). Karena campur tangan Nicholas, konfederasi Swiss tidak merusak biara St Katharina semasa perang itu berlangsung.

Ketika usianya menginjak 30 tahun, Nicholas menikah dengan Dorothea Wissling. Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniai 10 anak, lima perempuan dan lima laki-laki. Di kemudian hari, anak lelaki bungsunya menjadi seorang imam dan doktor teologi.

Tahun 1448, Nicholas terpilih sebagai hakim dan anggota dewan untuk Unterwalden. Beberapa kali ia mendapat tawaran untuk menjadi Gubernur. Namun, Nicholas menolak tawaran tersebut. Dirinya merasa tidak tertarik terjun ke dalam kancah politik.

Pada abad XV, terjadi perang saudara di Swiss. Kasus korupsi menjamur. Gereja Katolik pun diterpa krisis. Di Paroki Sachseln, tempat Nicholas tinggal, tidak ada imam yang melayani selama periode tahun 1415-1446. Tahun 1457, ia membuat gugatan bagi orang-orang di desanya untuk melawan seorang imam yang meminta upeti terlalu banyak. Tahun 1462, Nicholas menjadi mediator antara umat Stans dan Biara Engelberg. Ia juga memperjuangkan hak umat untuk memilih imam.

Dalam menjalani profesinya, Nicholas melihat bahwa hakim dan anggota dewan juga tak kebal suap. Menghadapi situasi itu, ia mengalami krisis batin. Banyak waktu ia habiskan seorang diri. Nicholas lebih suka suasana hening, sembari berdoa dan berpuasa.

Tinggalkan Semua
Pada 16 Oktober 1467, Nicholas memilih untuk meninggalkan istri, anak-anak, pekerjaan, dan semua yang ia miliki. Ia menarik diri dari semua jabatannya di pemerintahan sipil. Ia memilih untuk melayani Tuhan dengan menjadi seorang rahib.

Pilihan hidup ini direstui istri dan anak-anaknya. Nicholas menjalani hidup kontemplatif usai menerima visiun. Ia melihat setangkai bunga lili dimakan oleh seekor kuda. Nicholas mengartikan visiun itu bahwa selama hidupnya, ia lebih mementingkan kehidupan duniawi daripada kehidupan rohani. Bunga lili merupakan simbol kemurnian. Ia juga mendengar suara yang berkata, “Tinggalkanlah segala sesuatu yang kamu cintai dan Tuhan akan memeliharamu.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*