Artikel Terbaru

Mengklik Jomblo Katolik

Mengklik Jomblo Katolik
3 (60%) 5 votes

Romo Aris mengatakan, KJK dibentuk sebagai fasilitator, motivator, kreator, dan wadah bagi orang muda Katolik untuk bertemu, bersahabat, dan membangun hubungan yang lebih dekat, serta menemukan pasangan hidup yang seiman. Secara sederhana, Gereja meyakini bahwa dengan menikah secara Katolik otomatis pasangan suami istri mempunyai keturunan Katolik, serta menambah jumlah umat Katolik. “Dengan mendapatkan teman hidup yang seiman artinya kita tidak akan berpaling dari iman Katolik,” ujar Romo Aris.

KJK sudah tersebar ke berbagai daerah. Keluasan wilayah tinggal coba dipersempit dengan Jambore Nasional (Jamnas). Pada 11-12 Februari lalu, KJK menggelar Jamnas keenam di Griya Samadi Vincentius Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Jamnas sengaja dihelat dekat dengan perayaan Valentine’s Day, 14 Februari.

Ketua Pelaksana Jamnas keenam, Yohannes Catur mengatakan, KJK Malang sebagai tuan rumah mempersiapkan acara ini selama satu tahun. “Pembiayaan kegiatan KJK mandiri. Kebetulan KJK Regio Malang sudah terdaftar dan bernaung di bawah Komisi Kepemudaan Keuskupan Malang. Jadi kami mendapat bantuan dana,” ujarnya. Catur berharap, KJK tetap hi dup karena komunitas ini merupakan wadah yang baik untuk orang muda. “Berpro seslah dan jadikan KJK tempat yang tepat untuk mencari pasangan hidup,” ujarnya.

Perhatian Gereja
Di Keuskupan Bogor, ada komunitas yang lahir dengan intensi serupa. Namanya Bogor Single Community (BSC). Komunitas ini resmi berdiri pada 1 Mei 2016. Salah satu penggagas BSC, Romo Alfonsus Sutarno menguraikan, di Keuskupan Bogor jumlah orang muda cukup banyak tapi pastoral minim. BSC lahir sebagai solusi pastoral bagi orang muda yang masih single ini.

Romo Tarno menjelaskan, banyak orang muda yang berpendidikan, sudah bekerja, punya penghasilan, atau aktif dalam kegiatan Gereja. Tapi keberhasilan itu tak diimbangi kemudahan mendapatkan pasangan hidup. Maka perlu ada reksa pastoral kaum single yang bersifat progresif untuk bisa menyertai mereka. Yang bergabung dalam BSC adalah laki-laki dan perempuan yang belum punya pacar, duda atau janda, simpatisan atau sudah baptis Katolik, dan berusia 25-45 tahun. BSC juga terbuka bagi umat luar Keuskupan Bogor. “Setidaknya orang muda akan terfasilitasi dalam pertemanan, pencarian pacar, bahkan penemuan jodoh seiman,” ujar Romo Tarno.

Sementara di Paroki St Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta, ada Komunitas 25+. Komunitas ini beranggotakan orang muda Katolik berusia rata-rata di atas 25 tahun. Dulu, komunitas ini bernama Komunitas 25-35; beranggotakan orang muda dengan rentang umur 25-35 tahun. “Tapi ternyata yang di atas 35 tahun pun banyak yang belum menemukan pasangan. Maka nama diganti menjadi K25+,” kata Ketua Presidium K25+ Leonardus Purboyo.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*