Artikel Terbaru

Martina Bintari Dwihardiani: Bersyukurlah, Jangan Mengeluh

Martina Bintari Dwihardiani: Bersyukurlah, Jangan Mengeluh
3 (60%) 2 votes

Selain mengobati, mereka juga mengedukasi PSK cara menggunakan kondom serta alat kontrasepsi lain. Mereka juga mengajak para peserta berdiskusi dan mencari peluang pekerjaan yang sehat dan minim risiko. “Tak ada yang mudah dalam hidup, tapi tak boleh menyerah. Alternatif pekerjaan mungkin ada, tapi kita kerap fokus kepada ketakmampuan sehingga tak gigih mencari.”

Bintari dan koleganya juga mengunjungi para PSK yang terjaring petugas Dinas Sosial dan mendekam di ruang pembinaan. Selain itu, mereka juga memberikan kebutuhan sehari-hari yang tak ada di sana, misal pembalut, sabun, dan pakaian dalam. Seiring waktu layanan medis Bintari semakin luas. Bersama sebuah lembaga nonpemerintah, mereka menangani para pemakai obat-obatan terlarang di Kampung Bali dan Tomang, Jakarta Barat.

Soal pengalamannya, bagi Bintari bukan suatu yang menggembirakan, justru menyedihkan dan tak menarik. “Di antara kita masih banyak yang menghakimi dan memperlakukan PSK dengan negatif. Sementara mereka berjuang mencari penghidupan yang layak,” bebernya.

Mayoritas pasien Bintari adalah PSK dengan bayaran rendah, tempat tinggal kotor, begitu juga pengguna jasa mereka. Tak sedikit konsumen emoh memakai kondom, menolak mereka berarti tak dapat uang. Tak ayal jika penyakit seksual rentan menyerang. “Menghadapi pasien, saya belajar bersikap netral, memberikan layanan profesional terbaik. Meski kadang cerita mereka membuat saya ingin menangis dan marah.”

Penyakit dan Perang
Setahun berkarya di Tanah Air, pada 2004-2005, pimpinan MSF meminta Bintari memimpin sebuah klinik Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kenya. Klinik itu berada di rumah sakit Distrik Homabay. Dua tahun di sana, Bintari mengungkapkan tingkat prevalensi HIV di wilayah itu lebih dari 30 persen. Artinya, satu dari tiga penduduk di sana terinfeksi HIV. “Saya tak pernah menghadapi kasus serupa di Indonesia,” terang alumna SMA St Ursula Jakarta ini.

Umat Paroki St Albertus Agung Jetis, Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang ini paling terenyuh menyaksikan anak-anak kecil, lugu, dan tak berdosa terjangkit HIV dari orangtuanya. Mereka hidup sebatang kara karena orangtua mereka meninggal akibat virus mematikan itu. Ada ribuan pasien yang harus ia dan rekan-rekannya hadapi tiap hari.

Lewat tantangan seperti itu, Bintari belajar menangani pasien dan mengurus
supply obat, sebab pasien HIV tak boleh putus mengkonsumsi obat-obatan. Ia juga belajar menata laksana ribuan pasien dengan sumber daya terbatas. “Jangan bandingkan dengan rumah sakit di Indonesia. Di provinsi terjauh sekali pun, rumah sakit di Indonesia lebih layak dan bersih daripada rumah sakit di Afrika,” bandingnya.

Bintari bersama para perawat rumah sakit darurat di Haiti. [NN/Dok.Pribadi]
Bintari bersama para perawat rumah sakit darurat di Haiti.
[NN/Dok.Pribadi]

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*