Artikel Terbaru

Martina Bintari Dwihardiani: Bersyukurlah, Jangan Mengeluh

Martina Bintari Dwihardiani: Bersyukurlah, Jangan Mengeluh
3 (60%) 2 votes

Pada 2005-2006, Bintari ditunjuk sebagai Koordinator Medis Program MSF di Kenya. Ia menangani proyek-proyek kesehatan di Homabay dan Mathare, sebuah kawasan kumuh besar di wilayah Nairobi. Kata Bintari, daerah terkumuh di Jakarta kalah jauh. Di Nairobi penyakit dan kekerasan merajalela.

Selang lima tahun, MSF mengirim Bintari ke Goma, North Kivu, Kongo. Dua tahun di sana ia menjadi koordinator medis. Bila Kenya banyak penderita HIV, di medan karya baru ini sering terjadi perang sipil. Para milisi lalu-lalang dan kerap terdengar ledakan menggelegar. Misi medis Bintari di sana mengobati korban kekerasan fisik dan seksual, kurang gizi, dan aneka penyakit lain.

Ia mengakui di daerah seperti ini layanan medis umum sangat minim, kurang infrastruktur, pekerja medis, dan obat-obatan. Para dokter lokal yang berpengalaman tak bisa tinggal lama sementara jumlah pasien membludak. MSF memfasilitasi dokter bedah dan spesialis lain dari dalam maupun luar negeri selama paruh waktu.

Tantangan lain di Kongo waktu itu, lanjut penerima beasiswa dari Prince
Leopold Institute of Tropical Medicine Antwerp
ini, daerah di sana amat rawan. Pelaku kekerasan tak pandang bulu, petugas medis dan pekerja kemanusiaan bisa menjadi korban.

Perampokan dan penculikan oleh milisi sangat tinggi dan bisa terjadi sewaktu- waktu. Kasus kekerasan seksual juga meroket. Banyak perempuan menjadi korban pemerkosaan. Kejadian itu ternyata menjadi senjata perang oleh kelompok yang bertikai. Bintari juga pernah merawat korban gempa di Haiti, pada 2010.

Jangan Mengeluh
Saat ini Bintari berkarya sebagai peneliti di Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ada sejumlah penelitian yang sudah dan sedang ia selami, antara lain tuberkulosis, HIV, Filariasis, dan cacingan. Di celah waktunya, ia menaruh perhatian kepada kegiatan orang muda di Lingkungan St Andreas. Bersama sang suami, Vincent Dominique Monnier, ia bergabung dalam Komunitas Karangwaru Riverside. Komunitas itu berusaha agar Kali Buntung bersih dan sehat untuk warga sekitar.

Beberapa kali berkarya di daerah yang penuh tantangan dan amat mencekam, membuat Bintari memandang dan menjalani kehidupan secara positif. “Bersyukurlah karena kita mempunyai negara berdaulat, pemerintah bekerja keras, dan bangsa yang rukun dengan keberagamannya. Jangan mengeluh dengan kesulitan kita yang tidak ada apa-apanya ini,” demikian Bintari.

Ivonne Suryanto/Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 9 Tanggal 26 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*