Artikel Terbaru

SMP St Yusuf Pacet (Sanyupac): Emas Sekolah “Bhinneka” Ursulin

SMP St Yusuf Pacet (Sanyupac): Emas Sekolah “Bhinneka” Ursulin
1 (20%) 1 vote

Sr Elise bersama para guru Sanyupac. [NN/Dok.Sanyupac]
Sr Elise bersama para guru Sanyupac.
[NN/Dok.Sanyupac]
Minoritas Kreatif
Sanyupac yang mulai beroperasi akhirnya diberkati Uskup Surabaya kala itu, Mgr Jan Antonius Klooster CM didampingi Pater Mensvoort CM pada 14 Januari 1968. Nama pelindung St Yusuf dipilih sebagai “mempelai” St Maria yang menjadi pelindung sekolah Ursulin di Surabaya. Meski bernaung di bawah bendera Katolik, para murid Sanyupac justru sejak awal mayoritas beragama Islam; pun termasuk para pendidiknya. “Dari 200 siswa, hanya 10 siswa beragama Katolik, 24 Kristen, dan mayoritas Islam. Mereka berlatar belakang suku Jawa, Nias, Batak, dan Tionghoa. Inilah ciri khas kami, beranekaragam dan toleransi,” ungkap Johanes Bambang Edi Purnomo, yang sejak 1985 mengabdi di Sanyupac.

Pelan tapi pasti, Sanyupac merintis karya. Hingga 1971, para murid mengikuti
ujian gabungan di SMPN 1 Mojokerto. Disiplin dan berkarakter menjadi ciri
Sanyupac yang ada di benak masyarakat. Apalagi setelah Sanyupac menyandang predikat Terakreditasi B, lalu tiga kali berturut-turut Terakreditasi A, kini sudah berstatus Disamakan. “Di usia emas ini, banyak alumni kami terbukti menjadi pribadi berkarakter dan mengukir masa depan gemilang. Mereka bisa menjadi anggota DPRD, dokter, dosen, bahkan ada yang masuk Ursulin, yaitu Sr Laurentina Lilik OSU. Kini ia bertugas sebagai Kepala TK Sukapirena Sukabumi, Jawa Barat,” kisah Sr Marie Elise Retno Sumiwi OSU, Kepala Sekolah Sanyupac sejak 2012.

Dalam sejarah, Sanyupac mendidik muridnya untuk menjadi pribadi yang berintegritas dalam aspek iman, hati, kehendak bebas, intelektual, dan sosial. Inilah tradisi pendidikan yang dikembangkan Ursulin. Pembentukan semangat pengabdian (serviam) diejawantahkan dalam sikap peduli, jujur, tanggung jawab, cerdas, dan disiplin. Inilah marwah Sanyupac menghidupi warisan spiritualitas St Angela dan menjawab kebutuhan masyarakat di Pacet. “Saya terkesan dengan pertunjukan opera yang merefleksikan ‘Sekolah Kebhinnekaan’. Inilah cermin pendidikan agar peka terhadap situasi bangsa,” ujar Provinsial Ursulin, Sr Agatha Linda Chandra OSU.

Servite et Amate
Komposisi guru yang mengajar pun membawa pesan serupa. Dari 14 guru, separuh beragama Islam. Demikian juga komposisi jumlah staf dan karyawan. Seorang guru yang beragama Islam, Wahyu Edi Santosa merasa senang bisa mengabdi di Sanyupac. Guru Seni Budaya, Bahasa Indonesia, dan Agama Islam ini merasakan toleransi yang begitu kental. “Suster memberikan kita waktu sholat. Sekolah kita pun punya ruang doa yang bisa digunakan untuk sholat,” tutur guru yang mengajar di Sanyupac sejak 1999 ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*