Artikel Terbaru

SMP St Yusuf Pacet (Sanyupac): Emas Sekolah “Bhinneka” Ursulin

SMP St Yusuf Pacet (Sanyupac): Emas Sekolah “Bhinneka” Ursulin
1 (20%) 1 vote

Para guru beragama Islam melihat kekhasan sekolah Katolik ini sebagai sekolah yang sungguh mempraktikkan sikap rukun, toleransi, saling membantu. “Pengalaman pribadi sebagai guru Sanyupac yang tak terlupakan adalah ketika Bapak-Ibu berbeda agama berdoa bersama. Kami diberi kesempatan menyampaikan doa atau renungan pagi sebelum beraktivitas. Inilah semangat melayani dan menyayangi, servite et amate,” tutur Wahyu.

Menurut Sr Elise, Sanyupac dipandang sebagai sekolah multiagama, multikultur, dan multietnis. Selain pelajaran intrakurikuler, para murid juga mendapat pendidikan karakter dan disiplin, serta ekstrakurikuler seni, seperti karawitan, tari dan musik modern, olahraga, tata rias dan boga. Hal itu diamini para guru. “Bahkan sekolah ini punya kontribusi bagi masyarakat. Selain mencerdaskan generasi muda, mereka juga dididik untuk bersikap kreatif, inovatif, kritis dan peduli lingkungan,” ungkap Wahyu.

Sekolah ini, kata Bambang, juga menjangkau keluarga sederhana di Pacet dan
sekitarnya. Selain mengajar, ia aktif sebagai Ketua Bidang Pembinaan dalam Pengurus Dewan Pastoral Stasi St Maria Pacet, Paroki St Yoseph Mojokerto, Keuskupan Surabaya. Para murid biasanya datang dari sekitar sekolah. Hanya 15 persen murid berasal dari lokasi yang cukup jauh.

Ukiran prestasi murid dan guru mulai muncul di tingkat Kabupaten Mojokerto sejak 1990-an. Kehadiran para Ursulin di Pacet menjadi garam bagi masyarakat. Meski hanya komunitas kecil dengan lima suster, mereka ikut mengukir hati masyarakat, mengasah intelektual kaum muda, serta mengabdi tulus pada Gereja. Mereka menghidupi nasihat St Angela, “Bagi Anda, hiduplah sedemikian rupa hingga Anda menjadi contoh bagi mereka” (Nasihat 6:1).

Di usia 50 tahun, Sanyupac masih berjuang menjadi perekat kebhinnekaan. Satu peluang yang masih belum tergarap adalah pembentukan komunitas alumni yang bisa menjadi teladan bagi generasi muda, memberikan sumbang saran dan finansial demi kemajuan almamater tercinta. “Inilah peziarahan membangun persaudaraan sejati. Jangan berhenti mengajarkan berbeda itu indah,” demikian Sr Elise.

R.B.E. Agung Nugroho

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 9 Tanggal 26 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*